Arifin25’s Blog

Oktober 12, 2012

FILSAFAT ILMU1….

Filed under: Uncategorized — arifin25 @ 9:40 am

FILSAFAT ILMU

1.1. Filsafat

Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual. Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang berarti cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami reduksi makna yaitu berpikir yang menyesatkan. Socrates karena kerendahan hati dan menghindarkan diri dari pengidentifikasian dengan kaum sofis, melarang dirinya disebut dengan seorang sofis (cendekiawan). Oleh karena itu istilah filosof tidak pakai orang sebelum Socrates (Muthahhari, 2002).

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan, dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan metafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik.

Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Dengan demikian filsafat akan terus berubah hingga satu titik tertentu (Takwin, 2001).

Defenisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah masalah falsafi pula. Menurut para ahli logika ketika seseorang menanyakan pengertian (defenisi/hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia sedang bertanya tentang macam-macam perkara. Tetapi paling tidak bisa dikatakan bahwa “falsafah” itu kira-kira merupakan studi yang didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk ini, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari proses-proses sebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah dialektika. Dialektika ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk daripada dialog. Adapun beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof adalah:

1.    Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.

2.    Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.

3.    Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.

4.    Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.

5.    Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk menyatakan apa yang Anda lihat.

Plato (427–348 SM) menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Sedangkan Aristoteles (382–322 SM) mendefenisikan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan filosof lainnya Cicero (106–043 SM) menyatakan filsafat ialah ibu dari semua ilmu pengetahuan lainnya. Filsafat ialah ilmu pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.

Menurut Descartes (1596–1650), filsafat ialah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya. Sedangkan Immanuel Kant (1724–1804) berpendapat filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya 4 persoalan:

a.    Apakah yang dapat kita ketahui?

       Jawabannya termasuk dalam bidang metafisika.

b.    Apakah yang seharusnya kita kerjakan?

       Jawabannya termasuk dalam bidang etika.

c.    Sampai di manakah harapan kita?

       Jawabannya termasuk pada bidang agama.

d.    Apakah yang dinamakan manusia itu?

       Jawabannya termasuk pada bidang antropologi.

Setidaknya ada tiga karakteristik berpikir filsafat yakni:

1. Sifat menyeluruh: seseorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini akan membawa kebahagian dirinya. Hal ini akan membuat ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit. contoh: Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa.

2. Sifat mendasar: yaitu sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar.

3. Spekulatif: dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sebuah sifat spekulatif baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.

Sir Isacc Newton, seorang ilmuwan yang sangat terkenal, President of the Royal Society memiliki ketiga karakteristik ini. Ada banyak penyempurnaan penemuan-penemuan ilmuwan sebelumnya yang dilakukannya. Dalam pencariannya akan ilmu, Newton tidak hanya percaya pada kebenaran yang sudah ada (ilmu pada saat itu). Ia menggugat (meneliti ulang) hasil penelitian terdahulu seperti logika aristotelian tentang gerak dan kosmologi, atau logika cartesian tentang materi gerak, cahaya, dan struktur kosmos. “Saya tidak mendefenisikan ruang, tempat, waktu dan gerak sebagaimana yang diketahui banyak orang” ujar Newton. Bagi Newton tak ada keparipurnaan, yang ada hanya pencarian yang dinamis, selalu mungkin berubah dan tak pernah selesai. “ku tekuni sebuah subjek secara terus menerus dan ku tunggu sampai cahaya fajar pertama datang perlahan, sedikit demi sedikit sampai betulbetul terang”.

 


1.2. Munculnya Filsafat

Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikirpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “komentarkomentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

1.3. Klasifikasi Filsafat

Di seluruh dunia, banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang sama dan membangun tradisi filsafat, menanggapi dan meneruskan banyak karya-karya sesama mereka. Oleh karena itu filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan budaya. Pada dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Islam”.

Filsafat Barat

Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Menurut Takwin (2001) dalam pemikiran barat konvensional pemikiran yang sistematis, radikal, dan kritis seringkali merujuk pengertian yang ketat dan harus mengandung kebenaran logis. Misalnya aliran empirisme, positivisme, dan filsafat analitik memberikan criteria bahwa pemikiran dianggap filosofis jika mengadung kebenaran korespondensi dan koherensi. Korespondensi yakni sebuah pengetahuan dinilai benar jika pernyataan itu sesuai dengan kenyataan empiris. Contoh jika pernyataan ”Saat ini hujan turun”, adalah benar jika indra kita menangkap hujan turun, jika kenyataannya tidak maka pernyataannya dianggap salah. Koherensi berarti sebuah pernyataan dinilai benar jika pernyataan itu mengandung koherensi logis (dapat diuji dengan logika barat).  

Dalam filsafat barat secara sistematis terbagi menjadi tiga bagian besar yakni: (a) bagian filsafat yang mengkaji tentang ada (being), (b) bidang filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistimologi dalam arti luas), (c) bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi).

Beberapa tokoh dalam filsafat barat yaitu:

  1. Wittgenstein mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan di negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi juga diteruskan di Polandia. Filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau ″metafisik”. Filsafat analitik menyerupai ilmu-ilmu alam yang empiris, sehingga kriteria yang berlaku dalam ilmu eksata juga harus dapat diterapkan pada filsafat. Yang menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan barang-barang, peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan, aksioma, prinsip. Filsafat analitik menggali dasar-dasar teori ilmu yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri. Yang menjadi pokok perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa sehari-hari, maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.
  2. Imanuel Kant mempunyai aliran atau filsafat ″kritik” yang tidak mau melewati batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Rasionalisme dan empirisme ingin disintesakannya. Untuk itu ia membedakan akal, budi, rasio, dan pengalaman inderawi. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama antara pengalaman indrawi yang aposteriori dan keaktifan akal, faktor priori. Struktur pengetahuan harus kita teliti. Kant terkenal karena tiga tulisan: (1) Kritik atas rasio murni, apa yang saya dapat ketahui. Ding an sich, hakikat kenyataan yang dapat diketahui. Manusia hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang kemudian oleh akal terus ditampung oleh dua wadah pokok, yakni ruang dan waktu. Kemudian diperinci lagi misalnya menurut kategori sebab dan akibat dst. Seluruh pengetahuan kita berkiblat pada Tuhan, jiwa, dan dunia. (2) Kritik atas rasio praktis, apa yang harus saya buat. Kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif, keharusan mutlak: kau harus begini dan begitu. Ini mengandaikan tiga postulat: kebebasan, jiwa yang tak dapat mati, adanya Tuhan. (3) Kritik atas daya pertimbangan. Di sini Kant membicarakan peranan perasaan dan fantasi, jembatan antara yang umum dan yang khusus.
  3. Rene Descartes. Berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri subyek. Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus dalam ilmu alam. Metode untuk memperoleh kepastian ialah menyangsikan segala sesuatu. Hanya satu kenyataan tak dapat disangsikan, yakni aku berpikir, jadi aku ada. Dalam mencari proses kebenaran hendaknya kita pergunakan ide-ide yang jelas dan tajam. Setiap orang, sejak ia dilahirkan, dilengkapi dengan ide-ide tertentu, khusus mengenai adanya Tuhan dan dalil-dalil matematika. Pandangannya tentang alam bersifat mekanistik dan kuantitatif. Kenyataan dibaginya menjadi dua yaitu: “res extensa dan res copgitans”.

Filsafat Timur

Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok, dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk filsafat barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Namanama beberapa filosof: Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan lain-lain.

Pemikiran filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal ini disebabkan pemikiran timur lebih dianggap agama dibanding filsafat. Pemikiran timur tidak menampilkan sistematika seperti dalam filsafat barat. Misalnya dalam pemikiran Cina sistematikanya berdasarkan pada konstrusksi kronologis mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya manusia dijalin secara runut (Takwin, 2001).

Belakangan ini, beberapa intelektual barat telah beralih ke filsafat timur, misalnya Fritjop Capra, seorang ahli fisika yang mendalami taoisme, untuk membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sudah terlanjur dirongrong oleh relativisme dan skeptisisme (Bagir, 2005). Skeptisisme terhadap metafisika dan filsafat dipelopori oleh Rene Descartes dan William Ockham.

Filsafat Islam

Filsafat Islam ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat dari sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani). Terdapat dua pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354–430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480–524 M) dan John Scotus. Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories, dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara. Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris, tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam (Haerudin, 2003).

Majid Fakhri cenderung mengangap filsafat Islam sebagai mata rantai yang menghubungkan Yunani dengan Eropa modern. Kecenderungan ini disebut europosentris yang berpendapat filsafat Islam telah berakhir sejak kematian Ibn Rusyd. Pendapat ini ditentang oleh Henry Corbin dan Louis Massignon yang menilai adanya eksistensi filsafat Islam.

Menurut Kartanegara (2006) dalam filsafat Islam ada empat aliran yakni:

1. Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika mengajarkan filsafat. Ciri khas aliran ini secara metodologis atau epistimologis adalah menggunakan logika formal yang berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni: Al Kindi (w. 866), Al Farabi (w. 950), Ibnu Sina (w. 1037), Ibn Rusyd (w. 1196), dan Nashir al Din Thusi (w.1274).

2. Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al Maqtul (w. 1191). Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas cahaya.

3.  Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka pengenalan sufistik bertumpu pada hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi.

4. Aliran Hikmah Muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili oleh seorang filosof syi’ah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami yang dikenal dengan nama Shadr al Din al Syirazi, Atau yang dikenal dengan Mulla Shadra yaitu seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.

Dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam Al Quran kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali. Hadis juga menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dalam pandangan Allamah Faydh Kasyani dalam bukunya Al Wafi: ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada hari akhirat, dan mengantarkannya pada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan Allah, pemimpin Islam, sifat Tuhan, hari akhirat, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa ilahi. Mempelajari alam berarti akan mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan. Dengan demikian penelitian alam semesta (jejak-jejak ilahi) akan mendorong kita untuk mengenal Tuhan dan menambah keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah SWT. Fenomena alam adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi yang mulia sebagai obyek ilmu.

1.4. Filsafat Ilmu

Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005).

Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science berasal dari kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti “keadaan atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan. Namun kata ini mengalami perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji. Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui.

Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme–positiviesme sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisika (Kartanegara, 2003).

Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisika sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan Adam Smith (1723-1790) Bapak Ilmu Ekonomi menulis buku The Wealth Of Nation (1776) dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow.

Agus Comte dalam Scientific Metaphysic, Philosophy, Religion and Science, 1963 membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan yaitu: religius, metafisic dan positif. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran religi. Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir Inilah karakteristik sains yang paling mendasar selain matematika.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong prailmiah. Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).

 

Pengetahuan Manusia

 

Pengetahuan

Obyek

Paradigma

Metode

Kriteria

Sains

Empiris

Sains

Metode Ilmiah

 

Rasional empiris

 

Filsafat

 

Abstrak rasional

Rasional

Metode rasional

Rasional

Mistis

 

Abstrak suprarasional

Mistis

Latihan percaya

Rasa, iman, logis,kadang empiris

Sumber: Tafsir, Ahmad, 2006, Filsafat Ilmu

 

Dengan lain perkataan, pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji kebenaran (validitas) ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang prailmiah, walaupun sesungguhnya diperoleh secara sadar dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian, pengetahuan pra-ilmiah karena tidak diperoleh secara sistematis-metodologis ada yang cenderung menyebutnya sebagai pengetahuan “naluriah”.

Dalam sejarah perkembangannya, di zaman dahulu yang lazim disebut tahap-mistik, tidak terdapat perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan yang berlaku juga untuk obyek-obyeknya. Pada tahap mistik ini, sikap manusia seperti dikepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, sehingga semua obyek tampil dalam kesemestaan dalam artian satu sama lain berdifusi menjadi tidak jelas batas-batasnya. Tiadanya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu mempunyai implikasi sosial terhadap kedudukan seseorang yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan untuk dipandang sebagai pemimpin yang mengetahui segala-galanya. Fenomena tersebut sejalan dengan tingkat kebudayaan primitif yang belum mengenal berbagai organisasi kemasyarakatan, sebagai implikasi belum adanya diversifikasi pekerjaan. Seorang pemimpin dipersepsikan dapat merangkap fungsi apa saja, antara lain sebagai kepala pemerintahan, hakim, guru, panglima perang, pejabat pernikahan, dan sebagainya. Ini berarti pula bahwa pemimpin itu mampu menyelesaikan segala masalah, sesuai dengan keanekaragaman fungsional yang dicanangkan kepadanya.

Tahap berikutnya adalah tahap-ontologis, yang membuat manusia telah terbebas dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib, sehingga mampu mengambil jarak dari obyek di sekitarnya, dan dapat menelaahnya. Orang-orang yang tidak mengakui status ontologis obyek-obyek metafisika pasti tidak akan mengakui status-status ilmiah dari ilmu tersebut. Itulah mengapa tahap ontologis dianggap merupakan tonggak ciri awal pengembangan ilmu. Dalam hal ini subyek menelaah obyek dengan pendekatan awal pemecahan masalah, semata-mata mengandalkan logika berpikir secara nalar. Hal ini merupakan salah satu ciri pendekatan ilmiah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode ilmiah yang makin mantap berupa proses berpikir secara analisis dan sintesis. Dalam proses tersebut berlangsung logika berpikir secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan khusus dari yang umum. Hal ini mengikuti teori koherensi, yaitu perihal melekatnya sifat yang terdapat pada sumbernya yang disebut premis-premis yang telah teruji kebenarannya, dengan kesimpulan yang pada gilirannya otomatis mempunyai kepastian kebenaran. Dengan lain perkataan kesimpulan tersebut praktis sudah diarahkan oleh kebenaran premis-premis yang bersangkutan. Walaupun kesimpulan tersebut sudah memiliki kepastian kebenaran, namun mengingat bahwa prosesnya dipandang masih bersifat rasional–abstrak, maka harus dilanjutkan dengan logika berpikir secara induktif. Hal ini mengikuti teori korespondensi, yaitu kesesuaian antara hasil pemikiran rasional dengan dukungan data empiris melalui penelitian, dalam rangka menarik kesimpulan umum dari yang khusus. Sesudah melalui tahap ontologis, maka dimasukan tahap akhir yaitu tahap fungsional.

Pada tahap fungsional, sikap manusia bukan saja bebas dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib, dan tidak semata-mata memiliki pengetahuan ilmiah secara empiris, melainkan lebih daripada itu. Sebagaimana diketahui, ilmu tersebut secara fungsional dikaitkan dengan kegunaan langsung bagi kebutuhan manusia dalam kehidupannya. Tahap fungsional pengetahuan sesungguhnya memasuki proses aspel aksiologi filsafat ilmu, yaitu yang membahas amal ilmiah serta profesionalisme terkait dengan kaidah moral.

Sementara itu, ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan dalam satu nafas tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak menggarap hal-hal yang gaib seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan ilmu keagamaan.

Telaahan kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkahlangkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya.

Telaahan ketiga ialah dari segi aksiologi, yang sebagaimana telah disinggung di atas terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.

 

Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi

Tahapan

 

Ontologi

(Hakikat

Ilmu)

􀂃 Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?

􀂃 Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?

􀂃 Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya

tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?

􀂃 Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?

􀂃 Bagaimana prosedurnya?

Epistimologi

(Cara

Mendapatkan

Pengetahuan)

􀂃 Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?

􀂃 Bagaimana prosedurnya?

􀂃 Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar?

􀂃 Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri?

􀂃 Apa kriterianya?

􀂃 Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

Aksiologi

(Guna

Pengetahuan)

􀂃 Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan?

􀂃 Bagaiman kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?

􀂃 Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?

􀂃 Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

Sumber: Suriasumantri, 1993

Teori pengetahuan yang bersifat subjektif akan memberikan jawaban ”TIDAK”, kita tidak akan mungkin mengetahui, menemukan hal-hal yang ada di balik pengaman dan ide kita. Sedangkan teori pengetahuan yang bersifat obyektif akan memberikan jawaban ”YA”.

 

1.5. Sumber-Sumber Pengetahuan

Ada 2 cara pokok mendapatkan pengetahuan dengan benar: pertama, mendasarkan diri dengan rasio. Kedua, mendasarkan diri dengan pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan rasionalisme, dan pengalaman mengembangkan empirisme. Kaum rasionalis mengembangkan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dari ide yang diangapnya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukan ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sudah ada, jauh sebelum manusia memikirkannya (idelisme).

Di samping rasionalisme dan pengalaman masih ada cara lain yakni intuisi atau wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran, bersifat personal dan tak bisa diramalkan. Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia.

Masalah yang muncul dalam sumber pengetahuan adalah dikotomi atau gap antara sumber ilmu umum dan ilmu agama. Bagi agama Islam sumber ilmu yang paling otoritatif adalah Alquran dan Hadis. Bagi ilmu umum (imuwan sekuler) satunya-satunya yang valid adalah pengalaman empiris yang didukung oleh indrawi melalui metode induksi. Sedangkan metode deduksi yang ditempuh oleh akal dan nalar sering dicurigai secara apriopri (yakni tidak melalui pengalaman). Menurut mereka, setinggitingginya pencapaian akal adalah filsafat. Filsafat masih dipandang terlalu spekulatif untuk bisa mengkonstruksi bangunan ilmiah seperti yang diminta kaum positivis. Adapun pengalaman intuitif sering dianggap hanya sebuah halusinasi atau ilusi belaka. Sedangkan menurut agamawan pengalaman intuitif dianggap sebagai sumber ilmu, seperti para nabi memperoleh wahyu ilahi atau mistikus memperoleh limpahan cahaya Ilahi.

Masalah berikutnya adalah pengamatan. Sains modern menentukan obyek ilmu yang sah adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi (the observables) atau diamati oleh indra. Akibatnya muncul penolakan dari filosof logika positivisme yang menganggap segala pernyataan yang tidak ada hubungan obyek empirisnya sebagai nonsens. Perbedaan ini melahirkan metafisik (dianggap gaib) dan fisik (dianggap science).

Masalah lainnya adalah munculnya disintegrasi pada tatanan klasifikasi ilmu. Penekanan sains modern pada obyek empiris (ilmu-ilmu fisika) membuat cabang ilmu nonfisik bergeser secara signifikan ke pinggiran. Akibatnya timbul pandangan negatif bahwa bidang kajian agama hanya menghambat kemajuan. Seperti dalam anggapan Freud yang menyatakan agama dan terutama pendukungnya yang fanatic bertanggung jawab terhadap pemiskinan pengetahuan karena melarang anak didik untuk bertanya secara kritis.

Masalah lainnya yang muncul adalah menyangkut metodologi ilmiah. Sains pada dasarnya hanya mengenal metode observasi atau eksperimen. Sedangkan agamawan mengembangkan metode lainnya seperti metode intuitif. Masalah terakhir adalah sulitnya mengintegrasikan ilmu dan agama terutama indra, intektual dan intuisi sebagai pengalaman legitimate dan riil dari manusia.

 

1.6. Sejarah Perkembangan Ilmu

A. Zaman Yunani

Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris (pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi). Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.

Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM) mempertanyakan “Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?” Ia mengatakan asal alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda dapat, seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air.

Sedangkan Heraklitos mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan di sisi lain dapat melunakkan es. Artinya, api adalah aktor pengubah dalam alam ini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.

Pythagoras (580-500 SM) berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur bilangan merupakan juga unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Menurut Abu Al Hasan Al Amiri, seorang filosof muslim Phitagoras belajar geometri dan matematika dari orang-orang mesir (Rowston, dalam Kartanegara, 2003).

Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sehingga timbullah kaum “sofis”. Kaum sofis ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa “manusia” adalah ukuran kebenaran. Ilmu juga mendapat ruang yang sangat kondusif dalam pemikiran kaum sofis karena mereka memberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus merelatifkan teori ilmu, sehingga muncul sintesa baru. Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum sofis. Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia.

Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates. Menurutnya, kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea.

Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, berhasil menemukan pemecahan persoalanpersoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri dari tiga premis:

– Semua manusia akan mati (premis mayor).

– Socrates seorang manusia (premis minor).

– Socrates akan mati (konklusi).

Aristoteles dianggap bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

 

B. Zaman Islam

Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juga membuktikan kecintaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan sikap hormat mereka kepada ilmuwan, tanpa memandang agama mereka. Periode antara 750 M dan 1100 M adalah abad masa keemasan dunia Islam. Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab Peripatetik.

Al Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam. Berbagai karangan Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First, dan Second Analysis telah diterjemahkan Al Farabi ke dalam bahasa Arab. Al Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif. Di samping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras. Oleh karena jasanya ini, maka Al Farabi diberi gelar Guru kedua, sedang gelar Guru Pertama diberikan kepada Aristoteles.

Kontribusi lain dari Al Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklasifikasi ilmu pengetahuan. Al Farabi telah memberikan defenisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya. Al Farabi mengklasifikasi ilmu ke dalam tujuh cabang yaitu: logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik, dan ilmu fiqih (hukum).

Ilmu percakapan dibagi lagi ke dalam tujuh bagian yaitu: bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis, dan membaca. Bahasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam: ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar, dan aturan mengenai syair yang baik. Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan syair (puisi). Matematika dibagi dalam tujuh bagian.

Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu. Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika. Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi madani, yang berarti sipil dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota. Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani. Ilmu agama dibagi dalam ilmu fiqih dan imu ketuhanan/kalam (teologi).

Buku Al Farabi mengenai pembagian ilmu ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk konsumsi bangsa Eropa dengan judul De Divisione Philosophae. Karya lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum. Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik, dan geologi. Al Farabi (w.950) terkenal dengan doktrin wahda al wujud membagi hierarki wujud yaitu (1) dipuncak hierarki wujud adalah Tuhan yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (2) para malaikat di bawahnya yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (3) benda-benda langit (angkasa), (4) benda-benda bumi. Al Farabi memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokohtokoh filsafat harus bersepakat di antara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran.

Filosof lain yang terkenal adalah Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair. Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair. Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo. Buku ini kemudian menjadi buku teks (text book) dalam ilmu kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropa, seperti Universitas Louvain dan Montpelier. Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat. Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian. Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.

Kitab lainnya berjudul Al Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth Ben Daud) di Toledo. Oleh karena Al Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika, dan De Anima. Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoretis dan bagian yang bersifat praktis. Bagian yang bersifat teoretis meliputi: matematika, fisika, dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi: politik dan etika.

Ibnu Sina, mengatakan alam pada dasarnya adalah potensi (mumkin al wujud) dan tidak mungkin bisa mengadakan dirinya sendiri tanpa adanya Tuhan. Ibnu Sina mengelompokkan ilmu dalam tiga macam yakni (1) obyek-obyek yang secara niscaya tidak berkaitan dengan materi dan gerak (metafisik), (2) obyek-obyek yang senantiasa berkaitan dengan materi dan gerak (fisika), (3) obyek-obyek yang pada dirinya immaterial tetapi kadang melakukan kontak dengan materi dan gerak (matematika).

Ibn Khaldun dalam kitabnya Al Muqaddimah membagi metafisika dalam lima bagian. Bagian pertama berbicara tentang hakikat wujud (ontologi). Dari sini muncul dua aliran besar yakni eksistensialis (tokoh yang terkemuka adalah Ibnu Sina dan Mhulla Shadra) dan esensialis (tokoh yang terkemuka adalah Syaikh Al Israq, Suhrawardi). Berikutnya Ibn Khaldun membagi ilmu matematika ke dalam empat subdivisi yakni (1) geometri; trigonometrik dan kerucut, surveying tanah, dan optik. Sarjana muslim terutama Ibn Haitsam telah banyak mempengaruhi sarjana barat termasuk Roger Bacon, Vitello dan Kepler (2)Aritmetika; seni berhitung/hisab, aljabar, aritmatika bisnis dan faraid (hukum waris), (3) musik, (4) astronomi.

Dalam bidang ilmu mineral, dikenal karya Al Biruni yang berjudul Al Jawahir (batu-batu permata), selain itu pada abad ke-11 Al Biruni dikenal sebagai The master of observation di bidang geologi dan geografi karena Al Biruni berusaha mengukur keliling bumi melalui metode eksperimen dengan menggabungkan metode observasi dan teori trigonometri. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa keliling bumi adalah 24.778,5 mil dengan diameter 7.878 mil. Tentu saja ini merupakan penemuan luar biasa untuk masa itu, dengan ukuran modern saja yaitu 24.585 mil (selisih ± 139 mil) dengan diameter 7.902 mil.

Dalam bidang ilmu farmakologi dan medis dikenal karya Ibnu Sina yakni Al Qanun fi al Thibb dan Al Hawi oleh Abu Bakr Al Razi, bidang nutrisi dikenal karya Ibn Bathar yakni Al Jami Li Mufradat Al Adawiyyah wa Al Aghdziyah, di bidang zoologi dikenal karya Al Jahizh yang berjudul Al Hayawan dan Hayat Al Hayawan oleh Al Damiri. Di Andalusia terkenal seorang ahli bedah muslim, Ibn Zahrawi yang telah mencitakan ratusan alat bedah yang sudah sangat maju untuk ukuran zamannya.

Filosof lainnya adalah Al Kindi, yang dianggap sebagai filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat. Ibnu Al Nadhim mendudukkan Al Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam (natural philosophy). Buku-buku Al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat. Ibnu Abi Usai’bia menganggap Al-Kindi sebagai penerjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Di samping sebagai penerjemah, Al Kindi menulis juga berbagai makalah. Ibnu Al Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al Kindi dan sebagian di antaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana. Nama Al Kindi sangat masyhur di Eropa pada abad pertengahan. Bukunya yang telah disalin ke dalam bahasa Latin di Eropa berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron, dan Ptolemeus. Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalag filosof kenamaan Roger Bacon.

Filosof lainnya adalah Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol, meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.

Ibnu Rushd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles, yaitu: komentar besar, komentar menengah, dan komentar kecil. Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa: Arab, Latin, dan Yahudi. Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite karya Aristoteles dengan bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir. Dalam komentar menengah ia masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd.

Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al Kindi dalam bukunya Falsafah El Ula (First Philosophy). Al Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai (Haeruddin, 2003).

 

C. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern

Pada zaman modern paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah rasionalisme, idealisme, dan empirisme. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Paham idealisme mengajarkan bahwa hakikat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk mempelajari paham idealisme zaman modern. Paham empirisme dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman.

Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi Gereja Katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan ditemukannya benua baru (1492 M) oleh Columbus memberikan dorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris, Perancis dan Spanyol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais, dan Ronsard. Pada masa itu, seni musik juga mengalami perkembangan. Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo menjadi dasar bagi munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat.

Bacon adalah pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari zamannya dengan melihat perintis filsafat ilmu. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is Power (Pengetahuan adalah kekuasaan). Ada tiga contoh yang dapat membuktikan pernyataan ini, yaitu: mesin menghasilkan kemenangan dan perang modern, kompas memungkinkan manusia mengarungi lautan, percetakan yang mempercepat penyebaran ilmu.

Lahirnya Teori Gravitasi, perhitungan Calculus dan Optika merupakan karya besar Newton. Teori Gravitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi atau antara bumi dan matahari ada gaya saling tarik menarik.

Teori Gravitasi memberikan keterangan, mengapa planet tidak bergerak lurus, sekalipun kelihatannya tidak ada pengaruh yang memaksa planet harus mengikuti lintasan elips. Sebenarnya, pengaruhnya ada, tetapi tidak dapat dilihat dengan mata dan pengaruh itu adalah Gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda yang saling berdekatan.

Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika. Di abad ke-9 lahir semisal farmakologi, geofisika, geormopologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 mengenal ilmu teori informasi, logika matematika, mekanika kwantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiobiologi, oceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya.

 

D. China, India, dan Jepang

Peradaban India yang pada awal telah mencapai teknologi tingkat tinggi. Kontak Eropa dengan peradaban India sebagian besar melalui sumber berbahasa Arab. Jelas terlihat matematika India dengan system bilangan dan perhitungannya yang telah mempengaruhi aljabar Arab dan melengkapi angka utama Arab. Tetapi ciri khasnya adalah pemikiran dengan kesadaran yang tinggi.

Peradaban Cina, hingga zaman renaisans peradaban Cina jauh lebih maju dibanding Barat. Menurut Francis Bacon, Tranformasi masyarakat Eropa banyak berasal dari Cina seperti kompas magnetik, bubuk mesiu, dan mesin cetak. Namun Eropa tidak pernah menyadari hutang budinya kepada Cina. Kegagalan Cina dalam membuat perkembangan ilmu dan teknologi adalah filsafat yang ada lebih berlaku praktis ketimbang prinsip-prinsip abstrak, filsafat yang ada didasarkan analogi-analogi harmonis dan organis serta pedagang sebagai kelas yang tidak dapat dipercaya, sehingga ciri renaisans yang terjadi di Eropa tidak terjadi di Cina.

Peradaban Jepang selama beberapa abad terimbas dari kultur Cina. Pada awal abad ke-17 memutuskan untuk menutup pintu dari pengaruh-pengaruh yang dianggap membahayakan. Awal abad ke-19 memutuskan berasimilasi ke bangsa luar dan melaksanakan dengan sungguh. Saat ini satu sisi Jepang hidup dengan teknologi yang tinggi akan tetapi tetap mengikuti tradisi sosial yang kuno seperti bangsa Cina.

 

1.7. Ilmu dan Moralitas

Dari awal perkembangan ilmu selalu dikaitkan dengan masalah moral. Copernicus (1473-1543) yang menyatakan bumi berputar mengelilingi matahari, yang kemudian diperkuat oleh Galileo (1564-1642) yang menyatakan bumi bukan merupakan pusat tata surya yang akhirnya harus berakhir di pengadilan inkuisisi. Kondisi ini selama 2 abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa.

Moral reasioning adalah proses dengan mana tingkah laku manusia, institusi atau kebijakan dinilai apakah sesuai atau menyalahi standar moral. Kriterianya: Logis, bukti nyata yang digunakan untuk mendukung penilaian haruslah tepat, konsisten dengan lainnya.

Menurut Kohlberg (Valazquez, 1998) menyatakan perkembangan moral individu ada 3 tahap yaitu:

1.  Level Preconvenstional. Level ini berkembang pada masa kanak-kanak.

a. Punishment and obidience orientation: alasan seseorang patuh adalah untuk menghindari hukuman.

b. Instrument and relativity orientation; perilaku atau tindakan benar karena memperoleh imbalan atau pujian.

2. Level Conventional: Individu termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma kelompok agar dapat diterima dalam suatu kelompok tersebut.

a.  Interpersonal concordance orientation: orang bertingkah laku baik untuk memenuhi harapan dari kelompoknya yang menjadi loyalitas, kepercayaan dan perhatiannya seperti keluarga dan teman.

b. Law and order orientation: benar atau salah ditentukan loyalitas seseorang pada lingkungan yang lebih luas seperti kelompok masyarakat atau negara.

3.  Level Postconventional: pada level ini orang tidak lagi menerima saja nilai-nilai dan norma-norma dari kelompoknya, melainkan melihat situasi berdasarkan prinsip-prinsip moral yang diyakininya.

a.  Social contract orientation: orang mulai menyadari bahwa orang-orang memiliki pandangan dan opini pribadi yang sering bertentangan dan menekankan cara-cara adil dalam mencapai konsensus dengan perjanjian, kontrak dan proses yang wajar.

b.  Universal ethical principles orientation. Orang memahami bahwa suatu tindakan dibenarkan berdasarkan prinsip-prinsip moral yang dipilih karena secara logis, komprehensif, universal, dan konsisten.

 

1.8. Sarana Ilmiah

Dalam berpikir untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah, tentu tidak terlepas dari alat atau sarana ilmiah. Sarana ilmiah dimaksud meliputi beberapa hal yaitu bahasa, matematika, statistika, dan logika. Hal ini mempunyai peranan sangat mendasar bagi manusia dalam proses berpikir dan mengkomunikasikan maupun mendokumentasikan jalan pikiran manusia.

Bahasa merupakan suatu sistem yang berstruktur dari symbol-simbol bunyi arbitrer (bermakna) yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Unsur-unsur yang terdapat di dalamnya meliputi: simbol-simbol vokal arbitrer, suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer dan yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Bahasa berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan emosi kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Hal ini disebut bahasa ilmiah, tentu beda dengan bahasa agama yaitu kalam ilahi yang terabadikan ke dalam kitab suci dan ungkapan serta perilaku keagamaan dari suatu kelompok sosial.

Matematika sebagai bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Fungsi matematika hampir sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Matematika merupakan ilmu deduktif yang memiliki kontribusi dalam perkembangan ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.

Statistik mengandung arti kumpulan data yang berbentuk angka-angka (data kuantitatif). Penelitian untuk mencari ilmu (penelitian ilmiah), baik berupa survei atau eksperimen, dilakukan lebih cermat dan teliti dengan menggunakan teknik-teknik statistik. Statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif, jadi bahasa, matematika, statistik memiliki peranan yang sangat mendasar dalam berpikir logika dan tidak dapat terlepas satu sama lain dalam berbagai bidang aspek kehidupan ilmiah manusia.

Logika merupakan sarana berpikir sistematis, valid, cepat, dan tepat serta dapat dipertanggungjawabkan dalam berpikir logis dibutuhkan kondisi-kondisi tertentu seperti: mencintai kebenaran, mengetahui apa yang sedang dikerjakan dan apa yang sedang dikatakan, membuat perbedaan dan pembagian, mencintai defenisi yang tepat, dan mengetahui mengapa begitu kesimpulan kita serta menghindari kesalahan-kesalahan.

 

A. Bahasa

Bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi. Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari symbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Perlu diteliti setiap unsur yang terdapat di dalamnya. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wittgenstein yang menyatakan: “batas bahasaku adalah batas duniaku”.

Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah: (1) Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat. (2) Penetapan pemikiran dan pengungkapan.(3) Penyampaian pikiran dan perasaan. (4) Penyenangan jiwa.(5) Pengurangan kegoncangan jiwa.

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah.

 

B. Matematika

Banyak sekali ilmu-ilmu sosial sudah mempergunakan matematika sebagai sosiometri, psychometri, econometri, dan seterusnya. Hampir dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika dan statistika. Penalaran ilmiah menyadarkan kita kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peran penting dalam berpikir induktif.

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.

1.    Matematika sebagai Sarana Berpikir Deduktif

Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empiris, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran).

2.    Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial

Kontribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk penghitungan dan pengukuran, di samping hal lain seperti bahasa, metode, dan lainnya. Berbeda dengan ilmu sosial yang memiliki obyek penelahaan yang kompleks dan sulit dalam melakukan pengamatan, di samping obyek penelaahan yang tak berulang maka kontribusi matematika tidak mengutamakan pada lambang-lambang bilangan. Kita akan mempelajari sebuah kelompok sosial dengan informasi tertentu mengenai perasaan suka dan tidak suka di antara pasangan manusia. Sebuah grafik adalah suatu bahasa matematis yang mudah di mana kita dapat mengemukakan struktur semacam itu.

 

C. Statistik

Pada mulanya, kata “statistik” diartikan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan besar bagi suatu negara”. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja.

Dalam kamus ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis, dan klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.

Abraham Demoitre (1667-1754) mengembangkan teori galat atau kekeliruan (theory of error). Pada tahun 1757 Thomas Simpson menyimpulkan bahwa terdapat sesuatu distribusi yang berlanjut dari suatu variabel dalam suatu frekuensi yang cukup banyak.

Pearson melanjutkan konsep-konsep Galton dan mengembangkan konsep regresi, korelasi, distribusi, chi-kuadrat, dan analisis statistika untuk data kualitatif Pearson menulis buku The Grammar of Science sebuah karya klasik dalam filsafat ilmu. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun eksperimen, dilakukan lebih cermat dan teliti dengan mempergunakan teknik-teknik statistik yang diperkembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Tujuan dari pengumpulan data statistik dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yang secara kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan keilmuan. Perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternatif yang sedang dipertimbangkan telah diketahui, paling tidak secara prinsip, di mana konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternatif tersebut dapat dievaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi. Di pihak lain, kegiatan statistika dalam bidang keilmuan diterapkan pada pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum diketahui.

Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita hadapi. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.

 

Hubungan antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika dan Statistika

Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.

 

Peranan Statistika dalam Tahap-Tahap Metode Keilmuan

Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikirannya, tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Statistika diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen. Statistika diterapkan dalam penelitian pasar, penelitian produksi, kebijaksanaan penanaman modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industri, ramalan ekonomi, auditing, pemilihan risiko dalam pemberian kredit, dan masih banyak lagi.

 

D. Logika

Logika berasal dari bahasa latin yakni Logos yang berarti perkataan atau sabda. Dalam bahasa arab di sebut Mantiq. Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu. Logis dalam bahasa sehari-hari kita sebut masuk akal.

Kata Logika dipergunakan pertama kali oleh Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato dianggap sebagai perintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan kaum Stoa. (Russell, dalam Mundiri 2006). Aristoteles meninggalkan enam buah buku yang oleh murid-muridnya disebut Organon. Buku itu terdiri dari Categoriae (mengenai pengertian-pengertian) De Interpretatiae (keputusan-keputusan), Analitica Priora (Silogisme), Analitica Porteriora (pembuktian), Topika (berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (kesalahan-kesalahan berpikir). Theoprostus kemudian mengembangkan Logika Aristoteles dan kaum Stoa yang mengajukan bentuk-bentuk berpikir yang sistematis (Angel, dalam Mundiri 2006).

Logika dapat di sistemisasi dalam beberapa golongan:

  1. Menurut Kualitas dibagi dua, yakni Logika Naturalis (kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia) dan Logika Artifisialis (logika ilmiah) yang bertugas membantu Logika Naturalis dalam menunjukkan jalan pemikiran agar lebih mudah dicerna, lebih teliti, dan lebih efisien.
  2. Menurut Metode dibagi dua yakni Logika Tradisional yakni logika yang mengikuti aristotelian dan Logika Modern
  3. Menurut Objek dibagi dua yakni Logika Formal (deduktif dan induktif) dan Logika Material.

Dalam permasalahan logika satuan proposisi terkecil yakni “kata”. Kata menjadi penting karena merupakan unsur dalam membentuk pemikiran. Pada praktiknya kata dapat dilihat berdasarkan beberapa pengertian yakni positif (penegasan adanya sesuatu), negatif (tidak adanya sesuatu), universal (mengikat keseluruhan), partikular (mengikat keseluruhan tapi tak banyak), singular (mengikat sedikit/terbatas), konkret (menunjuk sebuah benda), abstrak (menunjuk sifat, keadaan, kegiatan yang terlepas dari objek tertentu), mutlak (dapat difahami sendiri tanpa hubungan dengan benda lain), relatif (dapat difahami sendiri jika ada hubungan dengan benda lain), bermakna/tak bermakna. Selain itu kata juga dilihat berdasarkan predikatnya.

Selanjutnya adalah defenisi. Defenisi adalah karakteristik beberapa kelompok kata. Karakteristik berarti melihat jenis dan sifat pembeda. Jadi mendefenisikan berarti menganalisis jenis dan sifat pembeda yang dikandungnya. Agar membuat defenisi terhindar dari kekeliruan ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan yakni: (a) defenisi tidak boleh luas atau lebih sempit dari konotasi kata yang didefenisikan (b) tidak menggunakan kata yang didefenisikan (c) tidak memakai penjelasan yang justru membingungkan (d) tidak menggunakan bentuk negatif.

Klasifikasi adalah pengelompokan barang yang sama dan memisahkan dari yang berbeda menurut spesiesnya. Ada dua cara dalam membuat klasifikasi yakni Pembagian (logical division) dan Pengolongan.

Mei 29, 2010

PERGESERAN PARADIGMA PESANTREN

Filed under: Uncategorized — arifin25 @ 11:54 am

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang masalah

    Manusia adalah makhluk multidimensional, bukan saja karena manusia adalah subjek yang secara teologis memiliki potensi untuk mengembangkan pola kehidupannya, tetapi sekaligus menjadi objek dalam keseluruhan macam dan bentuk aktivitas dan kreatifitasnya. Dengan demikian, bentuk dan sistem aspek kehidupan senantiasa harus dikonstruksi manusia itu sendiri. Di akhir 1970-an, Ivan Illich mengejutkan masyarakat dan pemerhati pendidikan dengan gagasan kontroversial tentang deschooling society (masyarakat tanpa sekolah). Illich meramalkan bahwa jika pengetahuan dan tingkat kedewasaan masyarakat sudah berkembang dengan wajar, maka intitusi-institusi pendidikan formal tidak lagi diperlukan. Masyarakat akan mampu manjalankan fungsi pendidikan lewat elemen sosial dan budaya yang luas, tanpa harus terikat dengan otoritas kelembagaan seperti sekolah. Artinya, dalam masyarakat ini, sekolah tidak lagi dibutuhkan. Gagasan ini memang sampai saat ini belum terbukti dalam kehidupan konkrit. Akan tetapi, jika saja kita melihatnya sebagai program studi, maka betapa tepatnya Illich dalam menilai dan mendiskripsikan eksistensi lembaga pendidikan.[1]

    Dalam perkembangannya, sekolah ternyata tidak menjadi media pembebasan dan penanaman nilai-nilai kemanusian. Sekolah menjadi “penjara” yang memisahkan anak didik dari dinamika persoalan masyarakatnya. Semakin lama seseorang bersekolah, semakin luas jarak antara dirinya dengan realita kehidupan yang sebenarnya. Sistem pendidikan yang tidak dialogis juga telah menyebabkan bakat dan kreatifitas anak didik tidak bisa berkembang secara baik. Sekolah bukan lagi tempat untuk belajar, melainkan tempat siswa diarahkan dan didesain menurut pola yang sudah baku. Dengan demikian, lembaga pendidikan gagal menjalankan tugasnya yang paling mendasar, yaitu membantu seseorang menjadi manusia yang cerdas, bebas dan merdeka.

    Sejak tahun 1880 ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menjalankan politik etis (etische politik), pendidikan yang menganut sistem persekolahan (schooling system), secara formal diberikan kepada anak-anak pribumi terjajah dengan arogansi bangsa penjajah, pemerintah kolonial Belanda menempatkan sistem persekolahan sebagai satu-satunya sistem pendidikan formal yang sah dan diakui oleh pemerintah. Pemerintah memberikan prioritas dan fasilitas kepada siswa-siswa lulusan sekolah formal untuk bekerja sebagai pegawai kolonial melalui pembuktian ijazah-ijazah formal yang dikeluarkan sekolah, dan terutama pemberian status ‘manusia modern’ kepada mereka yang terproses dalam pembelajaran di sekolah.

    Pendidikan nasional Indonesia selama ini terlalu mengikuti paham positivisme.[2] Positivisme ini banyak mengandung aspek-aspek positif, tetapi juga terdapat kerugian-kerugian ketika kita menggunakannya. Di antara kerugiannya adalah pada kenyataan di mana paham tersebut telah membuat sekolah dan perguruan tinggi kita terpisah dari masyarakat.[3]

    Sebagaimana sifat filsafat positivisme yang rasional, sekuler, materialistik, empiris, impersonal, dan bebas nilai-nilai,[4] sistem persekolahan pun mengembangkan diri dengan menguasai dan membalikkan kiblat pemikiran para siswanya dari doktrin-doktrin agama. Sebab masalah agama di dalam pandangan filosofis Auguste Comte dikategorikan sebagai pandangan manusia purba yang penuh takhayul dan primitif. Seorang manusia yang sudah mencapai tahap evolusi positif, yang disebut manusia modern harus meninggalkan pengetahuan teologis dan pengetahuan metafisis.[5] Dengan pandangan ini, pendidikan yang masih mengajarkan masalah nilai-nilai agama dianggap sebagai pendidikan bagi orang-orang berperadaban rendah alias masyarakat primitif dan terbelakang. Demikianlah, lembaga pendidikan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan asli[6] di Indonesia dan berlatar agama, dianggap sebagai pendidikan manusia-manusia kuno yang melambangkan keterbelakangan dan primitivisme.[7]

    Sistem persekolahan yang lahir dari filsafat positivisme yang    dianut dalam pendidikan formal kita terbukti tidak mampu memberikan kontribusi positif kepada para peserta didik, baik dalam pendidikan tauhid, pembinaan kepribadian, budi pekerti, pengetahuan aktual yang dibutuhkan,   ketrampilan kerja, dan penciptaan lapangan kerja yang dibutuhkan.

    Di lain pihak, pesantren tradisional sebagai sistem pendidikan agama Islam asli Indonesia tidak beranjak dari kerangka acuan lama yang mencitrakan din  sebagai  lembaga pendidikan   pencetak   ‘ulama   banyak   yang   kurang   percaya   diri   dengan eksistensinya, sehingga mengembangkan sistem persekolahan yang diberi nama dan   istilah-istilah   bahasa   Arab,   yakni   Madrasah   (Ibtidaiyyah-Tsanawiyyah-‘Aliyyah-Universitas Islam) di mana hal itu menyebabkan keberadaan pesantren-pesantren salafi semakin sedikit.

    Lembaga pendidikan formal dan pesantren adalah dua lembaga yang mempunyai banyak perbedaan. Sekolah atau lembaga pendidikan formal identik dengan kemodernan, pesantren identik dengan ketradisionalan. Sekolah lebih menekankan pendekatan yang bersifat liberal, pesantren lebih pada sikap konserfatif yang bersandar dan berpusat pada figur sang kiyai.[8] Namun, persepsi dualisme-dikotomik semacam ini mungkin kurang begitu tepat, karena dalam kenyataannya, banyak pula pesantren yang telah melakukan perubahan baik secara struktural maupun kultural.

    Pesantren sebagai institusi sosial tidak hanya berbentuk lembaga dengan seperangkat elemen pendukungnya, tetapi pesantren merupakan entitas budaya yang mempunyai implikasi terhadap kehidupan sosial yang melingkupinya. Sejak awal kelahirannya, pesantren berkembang dan tersebar di berbagai pedesaan. Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan keislaman yang sangat kental dengan karakteristik Indonesia ini memiliki nilai-nilai setrategis dalam pengembangan masyarakat Indonesia, sehingga memiliki pengaruh cukup kuat pada hampir seluruh aspek kehidupan di kalangan masyarakat muslim.

    Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan nasional di Insdonesia, agaknya tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam local genius. Di kalangan umat Islam di Indonesia sendiri, pesantren telah sedimikian jauh dianggap sebagai model institusi pendidikan yang mempunyai keunggulan baik pada sisi tradisi keilmuan maupun pada sisi transmisi dan internalisasi nila-nilai Islam. Dipandang dari perspektif people centered development, pesantren juga dinilai lebih dekat dan mengetahui seluk-beluk masyarakat yang berada di lapisan bawah.[9] Dari sini, perlu digarisbawahi bahwa ternyata pesantren telah dilihat sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia.

    Secara substansial, pesantren merupakan institusi pendidikan keagamaan yang tidak mungkin lepas dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Karena lembaga ini tumbuh dan berkembang dari masyarakat dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dalam pengertian transformatif. Dalam konteks ini, pendidikan pesantren pada dasarnya merupakan pendidikan yang sarat dengan nuansa transformasi sosial.

    Dengan mempertimbangkan kelebihan yang dimilikinya, bukan tidak mungkin pesantren akan dilirik sebagai alternatif di tengah pengapnya suasana  pendidikan formal di Indonesia, termasuk juga perguruan tinggi sebagai jenjang pendidikan formal yang paling tinggi.

    Dalam pengabdian pada masyarakat yang dilakukan pesantren merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dianut pesantren. Nilai yang selama ini berkembang dalam komunitas pesantren adalah: seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah, maksudnya kehidupan duniawi disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai Illahi sebagai sumber nilai tertinggi. Dari nilai pokok ini lahir dan berkembang nilai-nilai luhur lainnya, seperti nilai keikhlasan, kesederhanaan, kesabaran, dan kemandirian.

    Namun demikian, bukan berarti pesantren lepas dari kelemahan, justru dalam zaman yang ditandai dengan cepatnya perubahan di semua sektor dewasa ini. Pesantren mempunyai banyak persoalan yang membuatnya tertatih-tatih kalau tidak malah kehilangan kreatifitas dalam merespon perkembangan zaman. Yang pada suatu waktu, hegemoni Negara yang begitu kuat membuat dunia pesantren kelimpungan dalam mempertahankan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berpotensi besar untuk menjadi pendidikan keagamaan alternatif. Pesantren lalu kehilangan jati dirinya sebagai lembaga yang mengedepankan kemandirian, kesederhanaan dan keikhlasan. Pesantren mulai tergerus nilai-nilai pragmatisme dan sejenisnya.

    Dalam perkembangan selanjutnya, institusi pesantren telah berkembang sedemikian rupa sebagai akibat dari persentuhannya dengan polesan-polesan zaman sehingga kemudian melahirkan berbagai persoalan persoalan krusial dan dilematis. Di satu sisi, peran penting pesantren adalah penerjemah dan penyebar jaran-ajaran Islam dalam masyarakat. Karena itu, pesantren berkepentingan menyeru masyarakat dengan berlandaskan pada komitmen amar ma’ruf dan nahy munkar. Di sisi lain, untuk mempertahankan jati dirinya sebagai sebuah institusi pendidikan Islam tradisional, pesantren harus melakukan seleksi ketat dalam pergaulannya dengan dunia luar atau masyarakat, yang tidak jarang malah menawarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang telah digariskan pesantren. Akibatnya, terjadi semacam tarik-menarik kekuatan antara keduanya. Pemilahan pada salah satu sisi berarti akan menghilangkan keutuhan misinya, terlebih lagi bila meninggalkan kedua sisi itu secara bersama.

    Barangkali karena kondisi dilematis inilah pesantren kemudian dinilai sebagai sudah tidak mampu lagi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat untuk melakukan transformasi sosial. Bahkan, yang terjadi adalah kebalikannya: telah tercipta sebuah jurang pemisah yang lebar antara masyarakat dan pesantren. Pesantren seolah-olah telah membentuk “komunitas eksklusif” yang tidak mau lagi bersentuhan dengan masyarakat sekitarnya. Maka, tidaklah mengherankan bila pesantren yang semula dilahirkan oleh masyarakat pada akhirnya tidak mampu lagi merubah kehidupan mastarakat dengan nilai-nilai yang ditawarkannya. Tidak sebatas itu saja, yang lebih kontras lagi adalah bahwa di beberapa daerah tertentu, telah tercipta hubungan yang tidak harmonis antara pesantren dengan masyarakatnya. Mengapa kondisi demikian ini tercipta di tengah-tengah semakin derasnya arus informasi dan globalisasi yang telah menembus dinding-dinding tradisi dan ortodoksi sistem sosial suatu masyarakat? Apakah sikap eksklusif dan menutup diri telah menjadi keniscayaan bagi komunitas pesantren ketika berhadapan dengan dinamika masyarakat? Lalu, bagaimanakah posisi strategis pesantren diletakkan dalam konteks globalisasi?

    Petanyaan-pertanyaan di atas sangat menggelitik untuk tidak mengatakan menggugat kemapanan pesantren yang selama ini selalu dibanggakan sebagai sebuah institusi yang dinilai “paling orisinal” milik masyarakat Indonesia dengan segala tambahan predikat baik lainnya. Jawaban-jawaban apologetic yang membela pesantren sudah tidak relevan lagi untuk tidak dikedepankan. Tulisan ini tidak akan memaparkan ihwal di atas, melainkan ihwal apakah pesantren akan dibiarkan terus melarut dalam status quo yang nyata-nyata semakin mengendapkan ubun-ubun kesadaran komunitas di dalamnya. Padahal, kondisi yang dihadapi pesantren adalah kompleksitas tantangan-tantangan kontemporer seiring dengan bertanmbahnya usia dunia ini. Hanya dengan kerja keras dan upaya cerdas dari masyarakat yang bergelut di dalamnya sajalah perubahan “nasib” pesantren dapat dihadapkan lebih cepat kehadirannya. Upaya mencari solusi tataran ini menjadi begitu mendesak dan memilki arti penting.

    B. Rumusan Masalah

      Dari pemaparan latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalahnya, yaitu sebagai berikut :

      1. Apa saja bentuk-bentuk pergeseran Pesantren?
      2. Apa saja penyebab pergeseran paradigma Pesantren?
      3. Bagaimana implikasi Pergeseran Paradigma Tasawuf ke paradigma Fiqih?


      PEMBAHASAN

      A. Makna dan Tujuan Pendidikan Islam

        Makna dan tujuan adalah dua unsur yang saling berkaitan, yang telah menarik perhatian para filosof dan pakar pendidikan sejak dahulu. Adanya perbedaan konseptualisasi dan penjelasan kedua unsur ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam memahami hakekat, peranan, dan tujuan hidup manusia di dunia, yang ternyata sangat berkaitan dengan serentetan pertanyaan mengenai hakikat ilmu pengetahuan dan realitas mutlak. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika ada perbedaan pendapat di kalangan filosof dan tokoh pendidikan selama ini.

        Tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang hendak diwujudkan.[10] Sehingga dengan mengetahui bagaimana manusia ideal dalam pandangan Islam, akan mudah memformulasikan kerangka hasil yang ideal, yang hendak diwujudan dan dicapai melalui proses pendidikan Islam. Pendidikan Islam tradisional dalam menjadikan keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting.

        Secara umum, ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi pada kemasyarakatan, dan pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi pada individu,[11] yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung dan minat pelajar.

        Berangkat dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial dan ilmu pengetahuan pada dasarnya dibina atas dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, mereka yang berpandangan kemasyarakatan berpendapat bahwa pendidikan bertujuan mempersiapkan manusia yang bisa berperan dan menyesuaikan diri dalam masyarakatnya masing-masing.[12] Sementara itu, pandangan teoritis yang berorientasi individu berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar meraih kebahagian yang optimal melalui pencapaian kehidupan bermasyarakat jauh lebih berhasil dari yang pernah dicapai oleh orang tua mereka, dan lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan peserta didik.

        Sejalan dengan pandangan di atas, Al-Syaibani juga menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi 2, yaitu ; pertama, tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan-perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani serta dunia dan akhirat; kedua, tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, perubahan kehidupan dalam masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.[13]

        B. Sejarah Munculnya Pesantren

          Secara sosio-historis pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang didirikan oleh para Ulama (Kyiai). Pesantren didirikan dalam rangka mendidik masyarakat untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam, dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman hidup. Pengertian tertua dalam hal ini, karena pesantren adalah lembaga yang telah lama hidup ratusan tahun yang lalu tepatnya abad 14 M. dan sampai saat ini masih eksis, bahkan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia dan turut mewarnai dinamika bangsa Indonesia.

          Melacak akar tradisi pesantren, tidak cukup hanya melihat aspek kebahasaan, sebab pesantren dengan segala karakternya yang khas semakin memberikan gambaran batapa sulit untuk mengetahui secara pasti tentang asal-usul pesantren .

          Sebelum membahas kapan pertama kali pesantren didirikan di Indonesia, terlebih dahulu perlu melacak asal-mula Islam masuk di Indonesia. Dalam hal ini para ahli sejarah saling berbeda pendapat, sebagian memperkirakan masuknya Islam ke Indonesia dimulai sejak abad ketujuh, sebagian lain memperkirakan bahwa Islam telah mulai berkembang di Indonesia sekitar abad 11, dengan salah satu bukti yang paling kuat, yaitu ditemukannya batu nisan Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat tahun 475 H atau tahun 1082 M. di Leran Gersik Jawa Timur.[14]

          Terlepas dari perbedaan seputar kapan masuknya Islam di Indonesia, namun terjadinya kontak yang lebih intens antara budaya Hindu-Budha dan Islam dimulai sekitar abad 13.[15] Jalur Islam semakin memperoleh bentuknya ketika para Wali Songo mulai melakukan penetrasi dan berinteraksi dengan kekuasaan, yaitu ketika terjadi pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Fattah pada abad 15. Pada masa ini nilai-nilai Islam berangsur-angsur menggantikan budaya Hindu. Pada saat itu Islamisasi masyarakat jawa yang dilakukan oleh Wali Songo berjalan sangat lempang. Pengaruh Islam menyebar hampir keseluruh pulau jawa, kecuali beberapa daerah yang terletak di pedalaman.[16]

          Persoalan yang menarik di sini adalah bahwa ketika Islam masuk di Indonesia relatif bisa diterima dan menyebar dengan cepat, bahkan prosesnya berlangsung dengan damai. Dalam sosiologi bahwa penyebaran agama atau ideologi akan mudah tercapai dengan menguasai kekuasan, sebab kekuasaan merupakan sarana strategis membangun dan membina umat.

          Namun yang unik dikemukakan adalah kondisi yang berbeda antara penyebaran Islam di jazirah Arab dan di Indonesia. Perbedaan itu bisa dilihat dari beberapa tulisan sejarah yang menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Timur Tengah dengan jalan penaklukan dan penjajahan dengan kata lain penerapan hukum Islam (fiqih). Berbeda dengan konteks Indonesia, yang dilandasi dengan nilai-nilai toleran dan nilai-nilai budaya, bukan penerapan hukum fiqih, tetapi memasukkkan nilai-nilai esensial Islam dalam kehidupan masyarakat. Hal ini karena Islam yang didatangkan dari India dan Persia oleh para Wali Songo tidak bisa lepas dari ajaran-ajaran dasar tassawuf.[17]

          Penggunaan pendekatan tasawuf oleh kalangan penyebar Islam di Jawa dikarenakan konteks masyarakat jawa pada saat itu dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha di mana dalam ajarannya tidak jauh berbeda dengan ajaran Islam yang menekankan toleransi dan lebih pada substansi dari pada formalis, yaitu ajaran tasawuf. Yang menarik, jika kita melihat konteks timur tengah sebagai pusat peradaban Islam pada masa itu, di mana pada saat Islam masuk ke Indonesia, Islam di Timur Tengah sudah malakukan pembukuan ilmu-ilmu fiqih, dan ilmu fiqih pada saat itu mendapat prioritas yang lebih dibandingkan ilmu tasawuf. Di sisnilah kita bisa melihat betapa tepatnya para Wali Songo tetap menggukan pendekatan tasawuf.

          Keberadaan Wali Songo yang juga pelopor pendirinya pesantren dalam perkembangan Islam di Jawa sangatlah penting sehubungan dengan peranannya yang sangat dominan. Wali Songo melakukan suatu proses yang tak berujung, gradual, dan berhasil dalam menciptakan satu tatanan masyarakat santri yang saling damai dan berdampingan. Selanjutnya, oleh beberapa Wali Songo yang menggunakan pesantren sebagai tempat menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Jawa diintegrasikan dengan pendekatan yang berkesesuaian dengan filsafat hidup masyarakat Jawa.[18]

          C. Karakteristik Pendidikan Pesantren

            Sebelum membahas lebih jauh tentang karakteristik pendidikan pesantren, perlu kiranya mengetahui tujuan didirikannya pesantren. Secara umum tujuan didirikan pesantern pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu : tujuan umum, membimbing santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup menyalurkan keilmuannya dalam masyarakat luas dengan ilmu dan amalnya. Tujuan khusus, mempersiapkan para santri uintuk menjadi orang yang ahli dan menguasai ilmu keagamaan yang kemudian diamalkan dalam masyarakat sekitar tempat hidupnya.[19]

            Menghormati guru, yaitu janganlah berjalan di depannya, duduk di tempatnya, mulai mengajak bicara kecuali diperkenankannya, berbicara macam-macam, menanyakan hal yang membosankan, jangan mengetuk pintu rumahnya, cukuplah menanti di luar hingga ia sendiri keluar dari rumahnya, hormati pula anak serta semua semua orang yang berkerabat dengannya

            Demikian paparan yang diungkap oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limu al-Muta’alim li Thariqi  al-Ilmi yang ditulis pada abad XIV Masehi. Yang menarik adalah kitab ini dijadikan pegangan di pondok-pondok pesantren sebagai pedoman yang secara tidak resmi menjadi standar pola pendidikan pesantren. Kitab tersebut menjadi rujukan karena sistematika penulisan dan isi materinya amat bagus, seperti metode belajar yang praktis, etika berinteraksi antara civitas dalam komunitas pesantren dan sebagainya. Hanya saja yang perlu dikritisi adalah implementasi paparan di atas yang acapkali lebih mengedepankan laku pengkultusan sang Kyiai. Namun jika diinterpretesikan lebih mendalam dan kontekstual, sebenarnya konsep yang diusung Az-Zarnuji akan lebih humanis. Terlihat dari apa yang dianjurkan Az-Zarnuji, seorang muta’allim (murid) bebas dan leluasa memilih pelajaran yang diinginkan dan juga sekaligus bebas memilih guru untuk membimbingnya mempelajari pelajaran yang telah dipilihnya. Bahkan lebih dari itu, waktu dan lama belajarpun seorang muata’allim bebas menentukan sendiri, namun Az-Zarnuji juga memberi ajuran hari apa yang tepat untuk memulai belajar.

            Terlepas dari persoalan di atas, dalam perspektif sosiologis pesantren dipandang sebagai satu relaitas sosial budaya yang memiliki banyak persamaan dan perbedaan sekaligus antar masing-masing pesantren pada umumnya dan banyak perbedaan di tengah perubahan kehidupan masyarakat indonesia. Menurut Abduahman Wahid,[20] nilai perbedaan pesantren disebut sebagai suatu subkultur di tengah-tengah masyarakat luas. Perbedaan antar masing-masing pesantren, karena para Kyiai betul-betul memperhatikan pertalian nasab dalam mengembangkan pesantrennya. Kalaupun tidak berdasarkan nasab biasanya berkaitan dengan ikatan emosional yang sangat kuat antara Kyiai dan santri, sehingga cenderung untuk mempertahankan kebiasaan dan tradisi yang diwariskan oleh Kyiainya.

            Perbedaan yang mencolok antara pesantren dan masyarakat pada umumnya, dapat dilihat dari kehidupan masyarakat yang begitu cepat mengalami perubahan yang disebabkan oleh arus informasi dan perubahan budaya masyarakat akibat pengaruh yang berasal dari sebagai konsekuensi dari dunia global yang juga merupakan realitas yang tidak dapat dielakkan. Sikap konsumtif dan pandangan hidup materialistis masyarakat sebagai akibat dari pandangan filsafat positivistik, yang menghitung segala sesuatu dengan matematis dan materialistis adalah kenyataan yag terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini.

            Pondok pesantren dalam bacaan teknis merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri. Pernyataan ini menunjukkan makna pentingnya ciri-ciri pondok pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang integral. Sistem pendidikan pesantren sebetulnya sama dengan sistem yang digunakan Akademi Militer, yakni dicirikan dengan adanya sebuah bangunan beranda yang di situ seseorang dapat mengambil pengalaman integral. Dibandingkan dengan lingkungan pendidikan parsial yang ditawarkan sistem pendidikan sekolah umum di Indonesia sekarang ini, sebagai budaya pendidikan nasioanal, pondok pesantren mempunyai kultur yang unik. Karena keunikannya, pondok pesantren digolongkan kedalam subkultur tersendiri dalam masyarakat Indonesia.[21]

            Pesantren disebut sebagai subkultur, menurut Abdurraman Wahid,  karena ada tiga elemen yang membentuk pondok pesantren, yaitu, pertama, pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri tidak terkooptasi oleh Negara, kedua, kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad, dan ketiga, sistem nilai yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas.[22]

            Kepemimpinan pondok pesantren dikatakan unik karena memakai sistem kepemiminan tradisional, relasi sosial Kyiai dan santri dibangun atas dasar kepercayaan dan penghormatan kepada seorang yang memiliki ilmu keagamaan yang tinggi, sebagaimana ajaran sufi. Hal itu sejatinya bukanlah penghormatan kepada manusianya, tetapi lebih kepada ketinggian ilmu yang diberikan Allah SWT kepada seorang Kyiai.

            Elemen kedua dari pondok pesantren adalah memelihara dan mentransfer literatur-literatur umum dari generasi kegenerasi dalam berbagai abad. Dalam pendidikan pondok pesantren, aturan dalam terks-teks klasik yang dikenal dengan kitab kuning dimaksudkan untuk membekali para santri dengan pemahaman warisan yurisprudensi masa lampau atau jalan kebenaran menuju kesadaran esoteris ihwal status penghambaan di hadapan Tuhan,[23] dan dengan tugas-tugas masa depan dalam kehidupan masyarakat.

            Dilihat dari kurikulumnya, ciri kurikulum pesantren memadukan penguasaan sumber ajaran Illahi (bersumber dari Allah SWT) menjadi peragaan individual untuk disemaikan ke dalam hidup bermasyarakat. Selain mengenalkan ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (prilaku) dalam pengajarannya, sejak lama pesantren mendasarkan diri pada tiga ranah utama; yaitu faqohah (kecukupan atau kedalaman pemahaman agama), tabi’ah (perangai, watak, atau karakter), dan kafaa’ah (kecakapan operasional).[24] Jika pendidikan merupakan upaya perubahan, maka yang dirubah adalah tiga ranah tersebut, dan tentu saja perubahan kearah yang lebih baik.

            Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Dalam sistem pendidikannya, pesantren melestarikan ciri-ciri khas dalam interaksi sosial yaitu :

            1. Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan Kyiai serta taat-hormatnya para santri kepada Kyiai, yang merupakan figur kharismatik panutan kebaikan.
            2. Jiwa semangat tolong menolong, kesetiakawanan, suasana persaudaraan dan kebersamaan.
            3. Disiplin waktu dalam melaksanakan pendidikan dan beribadah.
            4. Hidup hemat dan sederhana.
            5. Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan, seperti tirakat, shalat tahajud di malam hari, iktikaf dan sebagainya.
            6. Merintis sikap jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.

            D. Fungsi dan Peran Pesantren

              Pesantren secara ideal mempunyai dua fungsi; mobilitas sosial dan pelestarian nilai-nilai etik serta pengembangan tradisi intelektual. Fungsi pertama menempatkan pendidikan pesantren sebagai sarana dan instrumen melakukan sosialisasi dan ternsformasi nilai agar umat mampu melakukan mobilisasi sosial berdasarkan pada nilai agama. Fungsi kedua lebih bersifat aktif dan progresif, di mana pesantren dipahami tidak saja sebagai upaya mempertahankan nilai dan melakukan mobilisasi sosial, lebih dari itu merupakan sarana pengembangan nilai dan ajaran. Ini menuntut terjadinya interdependensi, otonomi dan pembebasan dari setiap belenggu baik struktural maupun kultural karena pengembangan intelektual bisa terjadi jika menusianya independen dan tidak terikat baik secara fisik maupun mental.[25]

              Kenyataanya di pesantren saat ini, kedua fungsi tersebut tidak berimbang. Pola pendidikannya masih menampakkan diri sebagai instrumen model pertama, yakni wahana sosialisasi dan legitimasi madzhab. Untuk membangkitkan pesantren dari tidur panjangnya banyak hal yang harus dilakukan di antaranya menyuburkan daya nalar pesantren. Dinamika budaya dan perubahan sosial merupakan tantangan dunia pesantren di mana ketahanan nilai tradisi bergabung pada tiga hal. Pertama, kemampuan internal tradisi berhadapan dengan kekuatan eksternal baik bersifat ideologis maupun kultural, kedua, berkembangnya pikiran kritis; Ketiga, kemampuan generasi pendukungnya melakukan telaah kritis dan menyusun kembali tradisi alternatif bahkan perlawanan.

              Perubahan sosial dan pemunduran tradisi keagamaan akan kian kompleks seiring kecenderungan global yang akan mengelami disfungsi yang sama. Untuk itu perlu basis intelektual yang mampu menyesuaikan persoalan yang timbul. Karenanya diperlukan metodologi pemahaman keagamaan dan pengembangan kroninya secara kritis dengan wawasan yang integral.

              Pesantren, sebagai suatu subkultur, lahir dan berkembang seiring dengan derap langkah perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat global. Perubahan-perubahan yang terus berggulir itu, cepat atau lambat, pasti akan mengimbas pada komunitas pesantren sebagai bagian dari masyarakat dunia, meskipun tidak dikehendaki. Karenanya, tidaklah berlebihan jika A. Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa ada dua potensi besar yang dimilki pesantren, yakni potensi pengembangan masyarakat dan potensi pendidikan.[26] Dalam kaitan ini, bila ditilik dari kehadirannya, menarik kiranya untuk disimak bahwa institusi pesantren ternyata memilki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan perannya dewasa ini. Dalam hubungannya dengan potensi di atas, kehadiran pesantren disebut unik sekuarang-kurangnya karena ada dua alasan sebagai berikut.

              Pertama, pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkannya (amar ma’ruf dan nahy munkar). Kehadirannya, dengan demikian bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan (liberation) pada masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi. Institusi pesantren, dengan begitu, mengesankan telah berhasil mentransformasikan masyarakat di sekitarnya dari keburukan menuju kesalihan, dan dari kefakiran menuju pada kemakmuran atau kesejahteraan. Oleh karenanya, kehadiran pesantren menjadi seuatu keniscayaan sebagai bentuk institusi yang dilahirkan atas kehendak dan kebutuhan masyarakat. Dengan kesadarannya, pesantren dan masyarakat telah membentuk hubungan dengan harmonis, sehingga komunitas pesantren kemudian diakui menjadi bagian tak terpisahkan atau sub-kultur dari masyarakat pembentuknya. Pada tataran ini, pesantren telah berfungsi sebagi pelaku pengembangan masyarakat.[27]

              Kedua, salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah menyebar-luaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh pelosok Nusantara yang berwatak pluralis, baik dalam dimensi kepercayaan, budaya maupun kondisi sosial masyarakat.[28] Melalui medium pendidikan yang dikembangkan para Wali dalam bentuk pesantren, ajaran Islam lebih cepat membumi di Indonesia. Hal ini tampaknya menjadai fenomena tersendiri bagi keberadaan pesantren sebagi bagian dari historisnya di Indonesia yang dapat menjelaskan elanvital peran pesantren tatkala melahirkan kader-kadernya untuk dipersiapkan memasuki segala sistem kehidupan masa itu.

              Dengan institusi pesantren yang dibangunnya, para Wali berhasil menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam lingkungan masyarakat. Idealisasi bangunan masyarakat yang ditempuh adalah sebuah masyarakat muslim yang inklusif, egaliter, patriotik, luwes dan bergairah terhadap upaya-upaya transformative. Misi kedua ini lebih berorientasi pada peran pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan Islam.

              E. Paradigma dan Pergeserannya

                Sebelum membahas bentuk-bentuk pergeseran pesantren lebih lanjut, perlu kiranya untuk membahas teori pergeseran paradigma. Paradigma pertama kali muncul disuarakan oleh filosof asal Amerika Serikat yang bernama Thomas Kuhn tentang pandangannya terhadap perkembangan ilmu, yang merupakan respon terhadap pandangan neopositivisme dan Popper. Proses verifikasi dan konfirmasi-eksperimentasi dari bahasa ilmiah yang dalam pandangan Vienna Circle (lingkaran Vienna), merupakan langkah dan proses perkembangan ilmu, sekaligus sebagai pembeda antara yang disebut ilmu dengan yang bukan ilmu.[29] Sementara menurut Popper, proses perkembangan ilmu adalah dengan proses yang disebut falsifikasi (proses ekseperimentasi untuk membuktikan salah dari suatu teori) dan refutasi (penyangkalan teori).[30] Keduanya jelas memiliki nuansa positivistik dan karenanya juga objektifistik, yang cenderung memisahkan antara ilmu dan subyektifitas.

                Kuhn menolak pandangan di atas  dan memandang ilmu dari perspektif sejarah. Istilah paradigma oleh Kuhn dipakai untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu.[31] Dengan memakai istilah paradigma ia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata, termasuk hukum, teori, aplikasi dan instrumentasi, yang menyediakan model-model, yang menjadi sumber konsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu. Paradigma tunggal ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Yang dimaksudkan dengan ilmu normal adalah penelitian yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah.

                Menurut Kuhn, paradigma ilmu adalah suatu kerangka teoritis, atau cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunianya. Paradigma ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya seseorang dapat mengamati dan memahami masalah-masalah berserta jawaban-jawaban masalah tersebut. Paradigma ilmu dapat dianggap sebagai suatu skema kognitif yang dimiliki bersama. Sebagaimana skema kognitif itu memberi kita sebagai individu suatu cara untuk mengerti alam sekeliling.

                Pergeseran paradigma akan mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan mengilhami standar-standar pembuktian baru, teknik-teknik baru, serta jalur teori baru yang secara radikal tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang lama. Setiap paradigma dapat menghasilkan karya khusus yang menentukan dan membentuk paradigma baru. Perkembangan ilmu tidak disebabkan oleh dikuatkan dan dibatalkannya suatu teori, tetapi lebih disebabkan oleh adanya pergeseran paradigma.

                Thomas Kuhn mengembangkan konsep paradigma untuk memperlihatkan adanya perubahan dan pergeseran secara revolusioner dalam ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya menurut Kuhn bahwa dalam revolusi ilmu pengetahuan paradigma lama selalu digantikan oleh paradigma baru. Pergeseran  paradigma itu sangat radikal, dan tidak ada kontinuitas di antara kedua paradigma tersebut.[32]

                Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan secara umum kedalam tahap-tahap berikut. Pertama, paradigma membimbing dan mengarahkan aktifitas ilmiah. Di sini para ilmuwan menjabarkan dan mengembangkan paradigma sebagai model ilmiah yang digelutinya secara rinci dan mendalam. Dalam tahap ini para ilmuwan tidak begitu kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas  ilmiahnya. Kemudian, ketika menjalankan aktifitas ilmiah tersebut, para ilmuwan menjumpai berbagai fenomana yang tidak dapat diterangkan dengan peradigma yang digunakan sebagai bimbingan aktifitas ilmiahnya, inilah yang oleh Kuhn dinamakan anomali.[33] Anomali adalah suatu keadaan yang memperlihatkan adanya ketidak cocokan antara kenyataan (fenomena) dengan paradigma yang dipakai.

                Tahap kedua, menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan diri para ilmuwan terhadap paradigma yang digunakannya, kemudian mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuwan mulai keluar dari jalur normal saince.[34] Tahap ketiga, para ilmuwan bisa kembali pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma baru yang dipandang bisa memcahkan masalah dan membimbing aktifitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiahnyah.[35]

                F. Pergeseran Paradigma Pesantren

                  Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tentang pergeseran paradigma lama keparadigma baru, bahwa jika paradigma lama tidak mampu menjawab persoalan atau anomal-anomali yang muncul kemudian bersusaha mencari paradigma baru yang sekiranya dapat digunakan sebagai pijakan untuk menjawab anomali tersebut. Demikian halnya dengan pesantren, jika pada masa awal berdirinya pesantren masih mampu manjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam sosiokultur masyarakat sekitar, namun pada masa selanjutnya persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat semakin kompleks, dan paradigma yang digunakan pesantren sudah kurang mampu atau bahkan tidak sesuai dengan harapan, maka para tokoh dalam pesantren berusaha mencari solusi yang tepat untuk dapat menjawab persoalan tersebut. Di sisni terjadilah pergeseran dari paradigma lama ke paradigma baru yang dianggap lebih tepat dengan kondisi sosiokultur masyarakat.

                  Paradigma yang digunakan oleh pesantren pada awal berdirinya, tentunya juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar pada waktu itu. Jika pada awal berdirinya pesantren kondisi masyarakat sekitar adalah sangat kental dengan budaya dan ajaran Hindu-Buddha, maka paradigma yang dipakai oleh pesantren pun harus sesuai dan tidak bertentangan dengan budaya lokal (Hindu-Buddha). Sedangkan dalam Islam ajaran yang sangat menghormati budaya ajaran lain adalah ajaran tasawuf, dimana dalam ajaran tasawuf rasa toleransi sangat dikedepankan.

                  Pada perkembangan selanjutnya, kondisi masyarakat sekitar pesantren telah memeluk agama Islam dan mewarnai budaya lokal dengan ajaran Islam, sebagaimana penyebaran Islam yang dilakukan oleh para Wali Songo. Karena penanaman ajaran tasawuf atau tauhid telah berhasil dilakukan, maka kalangan pesantren menganggap sudah saatnya untuk mengubah orientasi dari ajaran tasawuf kepada penerapan hukum fiqih. Selain itu, pergeseran tersebut juga dikarenakan banyaknya generasi pesantren yang belajar di negeri Arab untuk memperdalam ajaran Islam, di mana kondisi bangsa Arab saat itu terkenal dengan al-Ahlul al-Hadits yang tentunya ajaran Islam yang dikembangkan lebih kental dengan fiqihnya.

                  G. Paradigma Pesantren

                  1. Paradigma Tasawuf

                    Sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan, jika kita lacak, tradisi keilmuan Islam di pesantren bersumber dari dua dekade, yakni dekade pengetahuan keislaman yang datang ke Nusantara pada abad ke 13, dan yang kedua, dekade ketika para anak-anak muda dari kawasan nusantara berlayar menuntut Ilmu disemenanjung Arabia, khususnya di Mekkah dan sekembalinya ke tanah air mereka mendirikan pesantren-pesantren, kemudian menjadi pesantren-pesantren besar.[36] Pada dekade pertama, manifestasi keilmuan Islam yang datang ke Indonesia adalah dalam bentuk tasawuf, sementara pada dekade kedua muncul ilmu-ilmu keislaman yang lebih mendalam pada fan Fiqih, hal ini ditandai dengan lahirnya ulama-ulama fiqih besar seperti Kyiai Nawawi Banten, Kyiai Abdul Ghoni Bima, Kyiai Mahfudz Tremas, Kyiai Khalil Bangkalan, dan sebagainya.[37]

                    Gelombang pertama keilmuan Islam yang bercorak tasawuf terjadi karena awal masuknya Islam di Indonesia dalam bentuk ilmu jadi dari dataran  Persia yang juga dikembangkan di dataran India dimana kedua dataran tersebut banyak memunculkan ulama-ulama tasawuf.[38] Ilmu tasawuf adalah ilmu yang memungkinkan manusia mengetahui diri dan kedudukannya di hadapan Allah SWT. Modus hubungan antara manusia dengan Sang Khaliq menjadi kajian utama, seperti tawakal, zuhud dan sebagainya. Modalitas manusia yang berupa jasad, akal, ruh dan nafsu serta qalbu sama pentingnya sebagai isi ilmu tasawuf, dengan perihal rute dan terminal perjalanan ruhani; yang kesemuanya merupakan ilmu yang tidak cukup diceramahkan, melainkan hanya bisa dipahami dan dijalani.

                    Dalam tasawuf tingkatan pengetahuan atau ilmu dibagi ke dalam empat tingkatan, yaitu : Syari’ah, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat. Syari’ah adalah ilmu yang dianggap sebagai kulit dari ajaran Islam, ajaran Islam Syari’ah ini lebih bersifat legal-formal, dengan kata lain memandang suatu persoalan sesuai dengan ketentuan hukum  dan Syari’ah yang berlaku, bahkan terkadang juga sesuai dengan madzhab fiqih yang dianut. Tingkatan kedua, yaitu Thariqat, sebagaimana arti Thariqat itu sendiri, yakni “jalan” atau bisa dikatakan jalan untuk mencari ketentraman dunia dan akhirat melalui bacaan-bacaan aurad (dzikir) yang sering dilakukan melaui istighatsah, manaqib, dan sebagainya. Dalam Thariqat masih terbagi-bagi lagi menjadi beberapa aliran Thariqat.

                    Sementara aliran yang ketiga, yaitu Hakikat lebih pada makna dan substansi ajaran Islam, yaitu tauhid, dan ketika memandang persolan lebih bersifat toleran asalkan substansinya tidak melenceng dari ketauhidan. Akhlak dan perilaku dalam tingkatan yang ketiga ini lebih dikedepankan. Sedangkan tingkatan yang terakhir, yaitu Ma’rifat, mengajarkan ketauhidan yang lebih mendalam lagi sampai pada kefanaan diri dan alam, yang ada hanyalah subtstansi Tuhan, manusia yang sudah berada pada tingkatan ini merasa telah bersatu dengan Tuhan (wahdatul wujud).

                    Jika kita melacak kesejarahan ilmu tasawuf, sebenarnya sudah ada semenjak periode tabi’in, namun pada masa itu tasawuf yang berkembang bersifat liar, artinya tidak terpaku pada satu atau dua aliran tertentu. Namun, ketika memasuki periode pasca Imam Al-Ghazali, ilmu taswuf mulai membentuk aliran-aliran, dan bersifat akhlaqiyah dan ‘ubudiyah. Pada perkembangan selanjutnya ilmu tasawuf bercabang-cabang menjadi beberapa aliran, bersamaan dengan pembukuan ilmu-ilmu fiqih yang dipelopori oleh para imam madzhab.

                    2. Paradigma Fiqih

                      Sebagaimana karakter syari’ah yang sangat menunjukkan sifat legal formal, fiqih juga demikian, selalu mengedepanan sifat legal-formal, doktriner, serta justifikasi yang berkecenderungan menampilkan Islam serba harfiah dan sesuai dengan hukum fiqih atau tata aturan syari’ah yang sah. Model berfikir serba formalistik atau legalistik tersebut berbeda kontras dengan corak Islam yang mengedepankan hakikat dan substansi sebagaimana logika ilmu kalam dan tasawuf. Bagi kalangan syariah atau fiqih, bahwa islam itu ialah isi dan kulit sekaligus, substansi itu penting, tetapi formalisasi justru akan mengamankan substansi.[39]

                      Karakter legalitas, doktriner dan justifikasi pada Islam Syari’ah merupakan keniscayaan dari paradigma Islam syari’ah yang berorientasi serba hukum atau fiqih Islam dalam logika “al-Ahkam Al-Khomash” (lima prinsip hukum) yaitu, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Sehingga melahirkan kaca mata serba hitam putih.[40]

                      Ilmu fiqih sendiri mulai memeprlihatkan perkembangannya sekitar abad 13 M. tepatnya pada masa pemerinyahan bani Abassiyah. Di mana pada masa tersebut keilmuan Islam sangat dipengaruhi oleh keilmuan Yunani kuno yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.[41]

                      H. Pergeseran Oreintasi Pesantren

                      1. Orientasi Tasawwuf

                        Sebagian besar kitab kuning yang diplajari dipesantren mengandung nuansa-nuansa tasawuf, beberapa diantaranya adalah Durrah an-Nashihin, bidayah al-Hidayah, Minhaj al Abidin, Ihya’ ‘Ulum ad-Diin, Mizan al-Kubra, dan Sarh al_Hikam.

                        Orientasi kitab kuning seperti ini jelas sangat mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan sikap hidup masyarakat pesantren. Disatu sisi, orientasi itu dapat membentuk kepribadian yang luhur, dan disisi lain pemahaman atas sufisme dan kehidupan tharekat seringkali mengalahkan dimensi nalar intelaktualitas. Keadaan ini terbukti ketika kajian kitab kuning manthiq kurang memperolah perhatian. Kitab as-Sulam Al-Munawraq, sebuah kitab kuning tentang logika memang masih diajarkan di beberapa pesantren, akan tetapi tidak dijadikan kajian yang penting. Tampaknya imbauan Imam al-Ghozali untuk mengkaji ilmu ini tidak cukup mampu mengalahkan statemen Ibn Shalaah dan Imam Nawawi yang justru mengharamkannya.

                        Fenomena di atas sangat menarik karena di satu sisi kajian tentang aspek tasawwuf memperoleh aspirasi yang tinggi, dan di sisi lain kajian tentang aspek logika terjadi sebaliknya. Namun kita bisa meihat terlebih dahulu tokoh yang meganjurkan untuk mempelajari logika dan tokoh yang mengharamkan mempelajari logika. Al-Gozali, adalah seorang filosof Islam yang juga sufisme besar di abad pertengahan, bahkan karangannya tentang tasawwuf yang tertuang dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah banyak dipakai dalam kajian pesantren, meskipun kadarnya sangat minim. Melihat horizont (latar belakang) yang dimiliki Imam al-Ghozali sangat dimaklumi jika beliau menganjurkan untuk mempelajari ilmu logika dan filsafat. Berbeda dengan kedua tokoh (Ibn Shalaah dan Imam Nawawi) yang mengharamkan untuk mempelajari logika dan filsafat, mereka berstatus sebagai ahl al-Hadits yang identik ilmu fiqihnya.

                        Jika melihat ajaran dalam ilmu tasawuf, orientasi yang digagas adalah penyerahan diri kepada sang khalik secara muthlak, artinya bahwa setiap apa yang dikerjakan merupakan untuk beribadah kepada Tuhan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Quran bahwa tujuan jin dan manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada sang Khalik. Bentuk ibadahnya pun bermacam-macam, setiap perbuatan yang bernilai baik adalah ibadah, tidak terpaku pada hukum syari’ah. Nilai baik dalam ibadah tersebut juga tidak secara baku ditetapkan, namun mempunyai neraca-neraca kebenaran yang universal.

                        Perlu ditekankan bahwa yang paradigma tasawuf di sini bukanlah tasawuf yang dimaknai secara sempit yang identik dengan ajaran tarekat-tarekat yang justru malah bersifat individualis dan seringkali menimbulkan rasa pesimistis. Namun tasawuf secara luas yang menekankan pada rasa toleransi dan kesederhanaan yang menimbang kebenaran secara universal.

                        2. Orientasi Fiqih

                          Pesantren yang selama ini Hukum fiqih bila kita ditafsiri dengan makna tekstual seperti yang selama ini dilakukan oleh banyak lembaga pesantren dengan forumnya yang bernama bahsul masa’il, selalu menghadirkan produk hukum positif yang terkesan fiqih sentris dalam beragama. Hal ini dapat kita lihat dari metode bahsul masil itu sendiri, di mana dalam kajian ini selalu mengedepankan I’barah hanya dari kitab-kitab fiqih muktabar. Sedangkan kitab-kitab ajaran tasawuf tidak dijadikan referensi dalam mengambil keputusan hukum.

                          Untuk melihat orientasi fiqih yang ada di pesantren, tentunya kita juga harus melihat kadar materi pelajaran yang diajarkan pesantren-pesantren selama ini. Ketika pesantren sudah mengadopsi sistem pembelajaran modern yang berparadigma positivistik, kitab-kitab yang diajarkan pesantren kadar fiqihnya lebih tinggi dibandingkan dengan kadar kitab yang berorientasi tasawuf.

                          Dikarenakan setiap masalah yang ada dalam realitas selalu dipandang melalui hukum fiqih dan metode intepretasi yang tekstualis di mana orientasi fiqih selalu menundukkan realitas kepada kebenaran fiqih yang berwatak hitam dan putih (halal-haram). Sehingga sesuatu yang berbeda dan berada di luar hukum fiqih selalu diangaggap sebagai barang bid’ah bahkan haram. Ironisnya pemahaman keagaman yang sempit inilah justru yang banyak dianut umat Islam. Ini karena pemahaman tersebut selain mendapat dukungan dari kelompok yang dominan di masyarakat juga karena pelestariannya dilakukan dengan berbagai cara dengan memanfaatkan berbagai media yang ada. Dengan demikian ajaran agama yang seharusnya menjadi dasar perubahan, bahkan menjadi alat pelanggengan status quo.

                          Mayoritas pesantren masa kini terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu terjadi kesenjangan, alienasi dan deferensiasi  antara keilmuan pesantren dengan realitas sosial.[42] Performa elitis yang ditampikan oleh dunia pesantren seakan semakin menjauhkan pesantren dengan basis primordialnya, yaitu warga masyarakat. Sehingga muncul rasa rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap pesantren, dan sebaliknya, pesantren tidak lagi merasa menjadi bagian milik masyarakat.

                          3. Pergeseran Oerintasi Tasawuf ke Orientasi Fiqih

                            Sebagaimana telah dijelaskan di atas tentang pergeseran paradigma, di dalam pesantren sebagai lembaga pendidikan nonformal, pergeseran paradigma tersebut sebagai imbas dari pergeseran orientasi. Untuk melihat pergeseran tersebut, tentunya kita harus menelaah terlebih dulu mengenai tujuan umum dari awal didirikannya pesantren, yang kemudian dilanjutkan menelaah sampai pada perkembangannya dan pada akhirnya akan ditemukannya titik pergeserannya.

                            Pada umumnya, awal berdirinya pesantren mempunyai tujuan pokok, yaitu, memepermudah dakwah Islam di Indonesia. Pesantren didirikan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada para santri, yang kemudian setelah santri benar-benar menguasi ilmu dan ajaran agama kembali ke masyarakat asalnya untuk menyampaikan kembali apa yang telah didapat di pesantren kepada masyarakat sekitarnya.

                            Pada masa awal munculnya pesantren (juga masa awal penyebaran Islam di Indonesia), kondisi sosiokultur masyarakat yang ada, rata-rata diwarnai oleh ajaran Hindu-Buddha, yang juga mempunyai kesamaan dengan ajaran tasawuf dalam Islam. Sehingga ajaran-ajaran yang disampaikan oleh pesantren-pesantren adalah ajaran tasawuf. Hal ini untuk mempermudah diterimanya Islam oleh masyarakat. Selain itu, Islam yang masuk ke Indonesia memang dibawa oleh orang yang dari Persia dan India yang kental dengan ajaran tasawuf.

                            Kemudian pada masa-masa selanjutnya, ketika ajaran Islam sudah menyebar hampir seluruh masyarakat Indonesia, khususnya jawa, para tokoh Islam dari kalangan pesantren yang jika ditelusuri banyak yang belajar dan memperdalam ajaran Islam ke negeri Arab, mulai merubah orientasi penyebaran ajaran Islam dari yang semula hanya mewarnai budaya lokal dengan ajaran tauhid Islam menjadi penerapan hukum fiqih dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena budaya lokal, seperti larung, sesajen dan sebagainya, dianggap sangat dekat dengan kesyirikan, sehingga perlu untuk menghilangkan budaya-budaya yang dianggap dekat dengan kesyirikan dan kekafiran.

                            1. I. Pergeseran Sistem Pendidikan dan Kurikulum Pesantren

                            Setelah mengalami pergesaran orientasi, tentunya kurikulum yang ada dalam pesantrenpun secara sendirinya juga harus mengadakan pergeseran dan perubahan sesuai dengan orientasi dan paradigma yang dipakai.

                            Pesantren dilihat dari segi kurikulumnya terbagi menjadi tiga model atau tipe, yaitu :

                            1. Pesantren Salafiyah atau Tradisional, yaitu pesantren yang sistem pendidikannya semata-mata berdasarkan pada pola-pola lama atau klasik. Jadwal dan kitab yang dikaji tidak mempunyai aturan yang baku, dan sistem pengajarannya masih menggunakan sistem lama, seperti sorogan, bandungan wetonan dan sebagainya.
                            2. Pesantren semi modern, yaitu pesantren yang sudah mengadopsi kurikulum sekolah, manajeman dan kurikulum sudah tertata rapi, seperti pembagian kelas (klasikal). Ustadz yang mengajarnya pun dibagi sedemikian rupa, sistem pembelajarannya pun tidak jauh beda dengan sistem yang ada di sekolah formal. Pada pesantren ini, pengelolaan kependidikan sudah tidak dipegang secara penuh oleh Kyiai, tetapi diambil alih oleh pengurus yang terkotak-kotak sesuai dengan bidang-bidang, meskipun kebijakan tertinggi masih dipegang oleh Kyiai.
                            3. Pesantren modern, yaitu pesantren yang kurikulumnya dan manajemen pembelajarannya mengadopsi kurikulum pemerintah/formal secara total. Materi pelajaran yang disampaikan oleh sekolah formal juga disampaikan oleh pesantren modern, Kyiai tidak lagi memegang otoritas penuh, namun hanya sebatas penasehat atau pimpinan yayasan yang juga tunduk pada aturan pemerintah.

                            Perbedaan-perbedaan pesantren di atas menunjukkan adanya pergesran-pergeseran pada sistem pendidikan dan kurikulum pesantren. Karena pada awal kemunculannya, pesantren hanya mempunyai sistem pendidikan tunggal, yaitu tradisional.

                            Pergeseran-pergeseran kurikulum pesantren tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang mewajibkan pendidikan formal selama sembilan tahun. Hal ini membuat pesantren mau tidak mau juga harus memberikan kelonggaran kepada santri untuk dapat merealisasikan hal tersebut. Selain itu ketakutan-ketakutan rasional positifistik juga sangat mempengaruhi pergeseran kurikulum pesantren, di mana rasional positivistik selalu mengukur segala sesuatu dengan materi.

                            J. Pergeseran Budaya Pesantren

                              Budaya-budaya yang dulu dimiliki pesantren sebagai identitas serta sebagai pembentukan kepribadian, saat ini telah mengalami pergeseran yang sangat jauh. Hal ini dapat kita lihat dari pola hidup kaum santri saat ini, di antaranya : pada masa dulu banyak santri yang memenuhi nafkahnya dengan jalan mencari dengan tangan sendiri, hal ini sudah jarang ditemukan di banyak pesantren manapun, selain budaya masak sendiri juga sudah hilang digantikan budaya makan di warung atau kost.

                              Budaya-budaya pesantren yang dulunya menawarkan kesederhanaan dan toleransi serta solidaritas, saat ini mulai bergeser pada budaya-budaya modern yang identik dengan kemewahan, konsumtif, dan individualis. Hal ini terbukti dari pola kehidupan santri saat ini, di mana rasa solidaritas terhadap sesama santri sudah mulai mengendur.

                              Jika pesantren pada masa lampau selalu menggunakan nama-nama dari daerah di mana pesantren tersebut berdiri, seperti Pesantren Jampes, Pesantren Bendo, Pesantren Lirboyo dan sebagainya, kini pesantren-pesantren yang muncul kemudian berubah nama menjadi menggunakan nama-nama berbahasa Arab, seperti Pesantren Salafiyah, Al-Ishlah, Al-Ma’ruf, Al-Amin dan sebagainya. Penggunaan bahasa Aarab itu sendiri mulai menguak sejak abad 20. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren mulai menjaga jarak dengan adat atau budaya setempat. Ini merupakan pilihan sikap untuk membatasi diri pada tugas langsung untuk melayani masyarakat sekitar. Hal ini tidak cukup dipandang sebagai mekanisme pesantren untuk menyatakan kehadirannya secara berbeda dan abai terhadap adat dan budaya sekitar, melainkan merupakan pertanda dimulainya era baru dalam pembelajaran dan budaya di pesantren.[43]

                              Pesantren yang selama ini merupakan benteng pertahanan masyarakat dari gerusan neoglobalisme dengan berbagai implikasinya, namun sekalipun demikian fakta bahwa perubahan sosial yang menjadi sangat cepat berlangsung di semua belahan dunia, tidak dapat diabaikan, di mana hal inilah yang menjadi tantangan besar pesantren. Perubahan sosial sekarang ini bercirikan mondial, spektakuler, dan radikal.[44] Mondial, karena perubahan itu mencakup seluruh pelosok negri di dunia; nyaris tidak ada bagian dari dunia yang bebas dari gelombang perubahan itu. Spektakuler, karena perubahan tersebut terjadi serentak, mendadak, dan tidak memberikan waktu yang cukup bagi bangsa-bangsa untuk mempersiapkannya. Radikal karena perubahan itu mempengaruhi kehidupan manusia sampai pada sendi-sendi yang mendasar, seperti akhlak dan pandangan hidup, celakanya lagi perubahan-perubahan tersebut berjalan searah, sehingga memungkinkan terjadinya pengerucutan budaya dunia menjadi kebudayaan tunggal.

                              KESIMPULAN

                                Berdasarkan uraian dan paparan data pada bab-bab sebelumnya, maka sampailah kiranya pada beberapa konklusi, dari sini penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

                                Bentuk-bentuk pergeseran pesantren dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, yaitu :

                                1. Pergeseran Paradigma

                                Pergesaran paradigma yang terjadi di pesantren adalah pergeseran paradigma tasawuf keparadigma fiqih. Berbeda dengan paradigma tasawuf yang melihat segala sesuatu melalui hakekat dan substansi, paradigma fiqih bersifat legal-formal dan memandang segala sesuatu melalui kacamata hukum syar’I atau fiqih yang didasarkan pada empat prinsip hukum, yaitu; wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

                                2. Pergeseran Orientasi dan Kurikulum Pendidikan

                                  Karena pada awal kemunculannya, pesantren hanya mempunyai sistem pendidikan tunggal, yaitu tradisional, seperti bandongan, sorogan dan wethonan, maka pada perkembangan selanjutnya sistem pendidikan dan kurikulum pesantren bergeser pada pola pendidikan modern dan baku sebagai imbas dari keberhasilan pemikiran positivisme dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

                                  3. Pergeseran Budaya

                                    Budaya-budaya pesantren yang selama ini menjadi ruh dan ciri khas pesantren, seperti figur kharismatik seorang kyai yang menjadi panutan, tolong-menolong, kesetia-kawanan, suasana persaudaraan dan kebersamaan, hemat dan sederhana, serta sikap jujur dan berani menderita, saat ini telah bergeser pada pola budaya yang bersifat konsumtif, individualis, elitis, serta terkesan menjauh dari realita kehidupan masyarakat sekitar pesantren.

                                    Untuk lebih jelas dalam memahami pergeseran yang terjadi di pesantren, dapat dilihat pada skema di bawah ini :

                                    Skema di atas menunjukkan bahwa jika salah satu dari bentuk entitas pesantren mengalami perubahan, maka semua entitas di atas juga akan mengalami pergeseran sesuai dengan pola pergeseran yang terjadi lebih awal. Berdasarkan bentuk-bentuk dari pergeseran yang terjadi di pesantren, maka dapat diketahui  bebarapa faktor yang menyebabkan pergesaran pesantren, yaitu sebagai berikut :

                                    1. Faktor Intern

                                    Faktor intern pesantren adalah faktor yang datang dari dalam pesantren itu sendiri yang berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Di antara kelemahan-kelemahan pesantren yaitu; pertama, pola kepemimpinan pesantren yang masih terpola dengan kepemimpinan yang sentralistik dan hirarkis yang terpusat pada satu orang kyai, sehingga hitam-putihnya pesantren sangat ditentukan oleh figur sang kyai. Kedua, bidang metodologis yang kurang adanya improvasisasi, sehingga hanya melahirkan penumpukan keilmuan. Ketiga, terjadinya disorientasi, yaitu pesantren kehilangan kemampuan mendifisinikan dan memposisikan dirinya di tengah realitas sosial yang saat ini sedang mengalami perubahan yang sangat cepat.

                                    2. Faktor Ekstern

                                      Faktor ekstern yang mempengaruhi pergeseran pesantren, di antaranya adalah : semakin cepatnya arus informasi dan teknologi globalisasi, peraturan dan kebijakan pemerintah Indonaesia yang menerapkan sistem pendidikan formal (salah satunya kebijakan wajib belajar sembilan tahun), dan keberhasilan ilmu pengetahuan yang berparadigma positivisme, serta perubahan sosiokultur masyarakat dari idealis menjadi pola pragmatisme.

                                      1. Implikasi logis pergeseran paradigma pesantren dari paradigma tasawuf keparadigma fiqih adalah bterjadinya pergeseran budaya dan orientasi pesantren yang berkarakteristik legalitas, justifikatis yang berorientasi serba hukum syar’I atau fiqih Islam dalam logika “al-Ahkam al-Khamsah” (lima prinsip hukum) yaitu, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah, sehingga melahirkan kaca mata hitam putih dan klaim penyesatan pada sesuatu yang berada di luar syar’i. Selain itu, dampak lain yang akan ditimbulkannya adalah pesantren  berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Problem sosialisasi dan aktualisasi ini ditambah lagi dengan problem keilmuan, yaitu terjadi kesenjangan, alienasi dan deferensiasi  antara keilmuan pesantren dengan realitas sosial. Performa elitis yang ditampikan oleh dunia pesantren seakan semakin menjauhkan pesantren dengan basis primordialnya, yaitu warga masyarakat. Sehingga muncul rasa rendahnya rasa memiliki masyarakat terhadap pesantren, dan sebaliknya, pesantren tidak lagi merasa menjadi bagian milik masyarakat.

                                      DAFTAR PUSTAKA

                                      A’la, Abdul. Pembaruan Pesantren. Yogyakarta : El-Kis, cet. 1, 2006.

                                      Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo. Tiga Tokoh Lirboyo, Kediri: BPK-P2L, 2002

                                      Baharuddin dan Makin, Moh. Pendidikan Humanistik. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2007.

                                      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1996.

                                      Farhan, Hamdan dan Syarifuddin. Titik Tengkar Pesantren; Resolusi Konflik Masyarakat Pesantren. Yogyakarta : Pilar Media, cet. II, 2005.

                                      Fathoni, Abdul Halim. Wajah Baru Pesantren Antara Formalis dan Indeginousitas, (www.Pesantren., 28 August 2007) Tanggal akses 21 Juni 2008.

                                      Haedari, Amin. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. Jakarta : Diva Pustaka, 2004.

                                      MHM P2L. HSPK Hasil Sidang Panitia Kecil. Kediri: MHM P2L (Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo, 2007.

                                      Leonard Lewisohn, et. al. Warisan Sufi Persia Abad Pertengahan (1150-1500), Terjemahan oleh Ade Alimah, dkk. Jakarta: Pustaka Sufi, 2003.

                                      Mas’ud, Abdurrahman. Intelektual Pesantren ; Perhelatan Agama dan Tradisi. Yogyakarta : El-Kis, 2004.

                                      Maleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000.

                                      Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Belukar, 2006.

                                      Nafi’, Dian, M. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta : El-Kis, disadur dari ITD, Cet. 1, 2007.

                                      Nasir, Haedar. Gerakan Islam Syari’at. Jakarta : PSAP, 2007.

                                      Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam. Jakarta : Erlangga, tt.

                                      Priatna, Tedi, Ed. Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung : Mimbar Pustaka, 2004.

                                      Rahardjo, Mudjia, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. Malang : UIN-Malang Press, 2006.

                                      Saifuddin, Ahmad Fedyani. Antropologi Kontemporer ; Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta : Kencana, Edisi I, 2006.

                                      Salim, Agus. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006

                                      Suhartono, Suparlan. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz, 2006.

                                      Susetyo, Benny. Politik Pendidikan Penguasa. Yogyakarta : Elkis, 2005.

                                      Tim Pena. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakaeta : Gramedia Press, tt

                                      Wahid, Abdul Rahman. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. Jakarta : Kompas, 2007.

                                      Wahid, Hasym, dkk. Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan. Hasil Seminar dan Loka Karya Nasional KMNU, PP Mamba’ul Ulum, Nganjuk, 4-7 Mei 2006.

                                      Wahid, Marzuki, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. Bandung : Pustaka Hidayah, 1999.


                                      [1] Benny Susetyo, Politik Pendidikan Penguasa. (Yogyakarta : Elkis, 2005).

                                      [2] Positivisme adalah salah satu aliran dalam filsafat yang meyakini bahwa semua yang ada bisa diukur melalui matematis, sehingga terkesan skuler, empiris, serta bebas nilai. (Wahid, dkk. Pesantren Global)

                                      [3] Hasym Wahid, dkk., Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan. (Hasil Seminar dan Loka Karya Nasional KMNU, PP Mamba’ul Ulum, Nganjuk, 4-7 Mei 2006).

                                      [4] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta : Belukar, 2006), 93.

                                      [5] Ibid.

                                      [6] Asli dalam arti bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan yang memang berangkat dari gagasan masyarakat Indonesia yang peduli akan makna pentingnya pendidikan pada masa pra penjajah, berbeda dengan pendidikan formal yang memang diberikan bahkan dipaksakan oleh Kolonial Belanda melalui politik etis (politik balas jasa). (Wahid, dkk. Pesantren Global). Menurut Reza Ahmad Zahid, Pesantren sebagai pusat transmisi Islam Nusantara mencerminkan pengaruh asing yang bercampur dengan tradisi lokal yang lebih tua, bahkan lebih jauh melacak sistem pendidikan yang mirip dengan pesantren lebih jauh sebielum Islam, yaitu, Mandala dan Asyrama sebagai tempat pendidikan agama Hindu-Buddha yang berasal dari India Selatan tepatnya Kerala. (Reza Ahmad Zahid, Pengaruh Budaya Lokal terhadap Karakteristik Nuansa Islam Pondok Pesantren, Disampaikan pada Kuliah Akbar Regional, BEM-I IAIT Kediri, 21 Juni 2008)

                                      [7] Wahid, dkk., Pesantren Global; Konsep Dasar dan Pedoman Pelaksanaan.

                                      [8] Mudjia Rahardjo, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. (Malang : UIN-Malang Press, 2006), xxi

                                      [9] Rahardjo, Ed. Quo Vadis Pendidikan Islam: Membaca Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, xxiii

                                      [10] Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, (Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2007), 176.

                                      [11] Syed M. Naquib Al-Attas, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam. (Bandung : Mizzan, 1998), 163

                                      [12] Ibid., 164.

                                      [13] Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta : Penamadani, 2003), 171.

                                      [14] Anason, Sejarah Masuknya Islam di Jawa, dalam Darrari Amin (ed), “Islam dan Kebudayaan Jawa”, (Yogyakarta : Gajah Mada, cet. II, 2002), 28.

                                      [15] Ibid.

                                      [16] Ibid.

                                      [17] Faiqoh, Nyai Agen Perubahan di Pesantren. (Jakarta : Kurcica, 2003), 151.

                                      [18] Ibid.

                                      [19] Amin Haedari. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern. (Jakarta : Diva Pustaka, 2004).

                                      [20] Gus Dur “Pesantren” : (WWW. Gus Dus Net. Libanon 2002).

                                      [21] Abdurrahman Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan, dalam Pesantren Masa Depan : Wacana Pemberdayaan dan Tansformasi Pesantren, (Jakarta : Pustaka Hidayah, 1999). 13

                                      [22] Ibid.,. 14

                                      [23] Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan, 16

                                      [24] M. Dian Nafi’ Ed. Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakarta: El-Kis, 2007), 33.

                                      [25] Wahid, Pondok Pesantren Masa Depan.

                                      [26] Marzuki Wahid,, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. (Bandung : Pustaka Hidayah, 1999), 201.

                                      [27] Marzuki, dkk, Ed. Pesantren Masa Depan;

                                      [28] Ibid.

                                      [29] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta : Belukar, 2006),118.

                                      [30] Ibid.

                                      [31] Ibid.

                                      [32] E.G. Singgih, Kuhn dan Küng: Perubahan Paradigma Ilmu dan Dampaknya Terhadap Teologi Kristen. (www.gougle.thomah _kuhn.) 14 juli 2008.

                                      [33] Ibid.

                                      [34] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu

                                      [35] Ibid.

                                      [36] M. Dian Nafi’ dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren. (Yogyakarta : El-Kis, 2007), 78.

                                      [37] Ibid.

                                      [38] Ibid.

                                      [39] Haedar Nasir. Gerakan Islam Syari’at. (Jakarta : Psap, 2007). 426.

                                      [40] Ibid., 428

                                      [41] Siti Maryam, dkk. Sejarah Peradaban Islam; Dari Zaman klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), 97.

                                      [42] Jamaludin Malik, Ed. Pemberdayaan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005).

                                      [43] M. Dian Nafi’. Dkk. Praksis Pembelajaran. 28

                                      [44] Ibid., 29

                                      Blog di WordPress.com.